DWJ Manajement - PORTAL

Purbaya Klaim AS Tiru RI Pindahkan SAL ke Bank: Kita Pinteran Sedikit Lah

Oleh: DWJ-Manajement 08 Sep 2026
Purbaya Klaim AS Tiru RI Pindahkan SAL ke Bank: Kita Pinteran Sedikit Lah

Purbaya Klaim AS Tiru Strategi Indonesia Kelola Cadangan Devisa: Kita Sedikit Lebih Cepat

Langkah strategis memindahkan cadangan devisa ke instrumen yang lebih produktif kini mulai diadopsi oleh negara adidaya.

Dinamika ekonomi global tengah menjadi sorotan tajam, terutama terkait bagaimana negara-negara besar mengelola cadangan devisa mereka. Dalam sebuah pernyataan yang menarik perhatian publik, ekonom senior Purbaya Yudhi Sadullah mengungkapkan bahwa Indonesia rupanya telah melangkah lebih dulu dalam melakukan optimalisasi pengelolaan cadangan devisa atau Saldo Akun Lancar (SAL).

Purbaya mengeklaim bahwa Amerika Serikat, yang selama ini menjadi kiblat kebijakan moneter dunia, kini tampak mulai mengikuti jejak langkah yang telah diambil oleh pemerintah Indonesia. Langkah tersebut berkaitan dengan strategi pemindahan aset cadangan devisa yang sebelumnya bersifat pasif, kini dialihkan ke instrumen yang lebih produktif, seperti pasar obligasi (bond market) dan penempatan di perbankan.

Strategi Optimalisasi: Dari Aset Pasif ke Instrumen Produktif

Selama ini, cadangan devisa seringkali dianggap sebagai "dana cadangan" yang hanya disimpan untuk menjaga stabilitas nilai tukar mata uang terhadap dolar AS. Namun, Purbaya menyoroti adanya pergeseran paradigma di Indonesia. Indonesia tidak hanya sekadar menumpuk mata uang asing, tetapi juga sangat aktif masuk ke dalam pasar obligasi untuk memastikan aset tersebut memberikan imbal hasil (yield) yang optimal.

"Anda lihat tuh, kita juga sempat masuk ke bond market kan. Anda lihat tuh sekarang Amerika, akan melakukan hal yang sama," ungkap Purbaya dalam keterangannya. Pernyataan ini menegaskan bahwa Indonesia telah melakukan manuver cerdas dalam mengelola likuiditas negara agar tidak menganggur, melainkan bekerja menghasilkan keuntungan bagi negara.

Dengan memindahkan sebagian cadangan ke pasar obligasi, Indonesia berhasil mendapatkan keuntungan dari selisih suku bunga atau yield yang ditawarkan. Hal ini tidak hanya memperkuat posisi keuangan negara, tetapi juga memberikan bantalan tambahan saat terjadi volatilitas ekonomi global yang tidak terduga.

Mengapa Langkah Ini Dianggap "Lebih Pintar"?

Purbaya secara lugas menyebutkan bahwa dalam konteks ini, Indonesia telah mengambil langkah lebih awal dibandingkan Amerika Serikat. Menurutnya, fleksibilitas dan kecepatan Indonesia dalam beradaptasi dengan kondisi pasar global memungkinkan negara ini untuk mengamankan keuntungan sebelum tren tersebut menjadi umum secara global.