Penyerapan Tenaga Kerja: Pembangunan smelter dan pabrik pengolahan menciptakan lapangan kerja baru di berbagai daerah, yang pada gilirannya meningkatkan daya beli masyarakat.
Penerimaan Negara: Nilai tambah yang tercipta berkontribusi langsung pada peningkatan pendapatan negara melalui pajak dan royalti.
Investasi Asing (FDI): Kepastian regulasi di sektor hilirisasi menarik minat investor global untuk menanamkan modal jangka panjang di Indonesia.
Penguatan Konsumsi Domestik dan Sektor Digital
Selain sektor industri, konsumsi rumah tangga tetap menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia. Dengan struktur demografi yang didominasi oleh usia produktif, potensi pasar domestik Indonesia sangatlah luas. Jika inflasi dapat dikendalikan dengan baik, daya beli masyarakat akan tetap terjaga, yang kemudian akan mendorong pertumbuhan di sektor retail, jasa, dan properti.
Di sisi lain, digitalisasi ekonomi yang masif juga menjadi katalisator penting. Ekonomi digital di Indonesia, mulai dari e-commerce hingga layanan keuangan berbasis teknologi (fintech), terus tumbuh dengan kecepatan tinggi. Integrasi teknologi ke dalam UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) diyakini akan memperluas cakupan ekonomi formal dan mempercepat perputaran uang di tingkat akar rumput.
Tantangan Global yang Perlu Diwaspadai
Meskipun optimisme menyelimuti proyeksi tahun 2027, para ahli mengingatkan bahwa jalan menuju pertumbuhan 6 persen tidaklah mulus tanpa hambatan. Indonesia harus tetap waspada terhadap dinamika geopolitik dan ekonomi global yang sangat volatil.
Ada beberapa risiko sistemik yang dapat menghambat laju pertumbuhan ekonomi jika tidak dimitigasi dengan kebijakan yang tepat:
1. Ketidakpastian Geopolitik Dunia
Konflik di berbagai belahan dunia, seperti ketegangan di Timur Tengah atau dinamika di Eropa Timur, memiliki dampak langsung terhadap harga komoditas energi dan pangan global. Fluktuasi harga energi dapat memicu inflasi tinggi yang akan menggerus daya beli masyarakat serta meningkatkan beban subsidi pemerintah.