Skema Dividen Bertahap: Pemerintah tidak menarik seluruh keuntungan secara sekaligus, melainkan dalam persentase yang lebih kecil agar Danantara tetap memiliki ruang untuk reinvestasi.
Pemanfaatan Dana untuk Proyek Prioritas: Alih-alih masuk ke kas umum APBN, dana dari Danantara dapat diarahkan langsung untuk mendanai proyek-proyek infrastruktur strategis yang menjadi prioritas pemerintah, sehingga manfaatnya tetap terasa secara langsung di sektor riil.
Insentif Pajak dan Retribusi: Memberikan kompensasi berupa keringanan beban lain bagi Danantara jika mereka berkomitmen pada target investasi tertentu.
Ketidakpastian mengenai aturan main ini juga dapat mempengaruhi kepercayaan investor. Jika regulasi mengenai aliran dana Danantara dianggap tidak konsisten, para mitra strategis internasional mungkin akan ragu untuk bekerja sama dalam proyek-proyek besar yang dikelola oleh lembaga ini.
Kesimpulan
Polemik mengenai rencana setoran Rp 120 triliun dari Danantara ke negara mencerminkan perdebatan klasik dalam manajemen keuangan publik: antara kebutuhan belanja negara saat ini dan kebutuhan investasi untuk masa depan. Keberatan Danantara adalah sinyal bahwa lembaga ini ingin fokus pada pertumbuhan aset dan penguatan kapasitas investasi nasional.
Pemerintah perlu merumuskan regulasi yang cerdas, yang mampu memenuhi kebutuhan fiskal tanpa harus mengorbankan potensi pertumbuhan Danantara sebagai mesin ekonomi baru. Kunci keberhasilan transformasi ekonomi Indonesia ke depan sangat bergantung pada bagaimana pemerintah mampu mengelola keseimbangan antara stabilitas APBN dan akselerasi investasi melalui lembaga seperti Danantara.
```