DWJ Manajement - PORTAL

RI Makin Haus Dolar, Awas Defisit Transaksi Berjalan Makin Lebar

Oleh: DWJ-Manajement • 06 Nov 2026
RI Makin Haus Dolar, Awas Defisit Transaksi Berjalan Makin Lebar

Waspada! Indonesia Semakin Haus Dolar, Defisit Transaksi Berjalan Berisiko Melebar

Ekonom Bank Danamon memprediksi defisit transaksi berjalan Indonesia akan menyentuh angka 1,5 persen dari PDB.

Tekanan Terhadap Stabilitas Moneter

Kondisi ekonomi nasional kini tengah menghadapi tantangan serius terkait tingginya permintaan terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS). Ketergantungan yang meningkat terhadap dolar dikhawatirkan akan menekan stabilitas nilai tukar rupiah di pasar global.

Fenomena ini memicu kekhawatiran mendalam mengenai kesehatan neraca pembayaran Indonesia dalam jangka menengah. Jika tidak segera dimitigasi, kondisi ini berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan secara signifikan.

Proyeksi Defisit Transaksi Berjalan

Kepala Ekonom Bank Danamon, Irman Faiz, memberikan peringatan mengenai arah pergerakan ekonomi makro Indonesia ke depan. Ia memperkirakan bahwa defisit transaksi berjalan Indonesia akan berada di kisaran 1,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Angka proyeksi tersebut menunjukkan adanya potensi ketidakseimbangan antara aliran modal yang masuk dan keluar dari dalam negeri. Defisit ini mencerminkan bahwa kebutuhan akan dolar AS untuk pembiayaan impor maupun kebutuhan lainnya masih sangat tinggi.

Faktor Pemicu Kenaikan Permintaan Dolar

Beberapa faktor utama yang diprediksi menjadi pemicu meningkatnya kebutuhan dolar di pasar domestik meliputi:

Tingginya kebutuhan impor bahan baku industri untuk menopang produksi dalam negeri.

Sentimen global terkait kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed).

Potensi aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar keuangan domestik.

Dampak Terhadap Nilai Tukar Rupiah

Pelebaran defisit transaksi berjalan secara langsung memberikan tekanan depresiasi terhadap nilai tukar rupiah. Semakin besar selisih antara kebutuhan dolar dengan ketersediaan valuta asing, semakin berat tekanan terhadap mata uang Garuda.

Kondisi ini menuntut kewaspadaan tinggi dari Bank Indonesia. Intervensi pasar yang tepat sangat diperlukan guna menjaga stabilitas nilai tukar agar tetap berada dalam rentang yang wajar dan tidak mengganggu iklim investasi.

Kesimpulan

Proyeksi defisit transaksi berjalan sebesar 1,5 persen PDB menjadi sinyal waspada bagi otoritas moneter dan pemerintah. Penguatan fundamental ekonomi dan pengendalian impor perlu menjadi prioritas untuk menekan ketergantungan terhadap dolar serta menjaga stabilitas ekonomi nasional dari guncangan eksternal.

Menampilkan Seluruh Artikel