DWJ Manajement - PORTAL

RI Punya Harta Karun di Bawah Bantal, Bisa Saingi China!

Oleh: DWJ-Manajement 22 Aug 2026
RI Punya Harta Karun di Bawah Bantal, Bisa Saingi China!

RI Miliki 'Harta Karun' Emas 1.800 Ton di Luar Sistem, Potensi Raksasa yang Bisa Saingi China

Nilai fantastis mencapai US$ 252 miliar ini menjadi peluang besar untuk memperkuat stabilitas ekonomi dan cadangan devisa nasional jika berhasil dikelola dengan tepat.

Indonesia menyimpan sebuah potensi ekonomi yang luar biasa besar, namun hingga saat ini masih tersembunyi di balik pintu-pintu rumah masyarakat. Bukan dalam bentuk mata uang asing atau aset digital, melainkan dalam bentuk logam mulia yang selama ini dijuluki sebagai "harta karun di bawah bantal".

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, baru-baru ini mengungkap fakta mengejutkan mengenai besarnya volume emas yang belum masuk ke dalam sistem keuangan formal di tanah air. Berdasarkan data yang dihimpun, terdapat sekitar 1.800 ton emas yang saat ini masih berada di luar ekosistem perbankan dan pasar modal resmi Indonesia.

Jika dikonversi ke dalam nilai mata uang global, jumlah emas yang masif tersebut diperkirakan mencapai angka US$ 252 miliar atau setara dengan lebih dari Rp3.900 triliun (tergantung kurs yang berlaku). Angka ini bukan sekadar angka statistik biasa, melainkan sebuah kekuatan finansial yang jika dikelola secara optimal, mampu mengubah peta kekuatan ekonomi Indonesia di kancah global, bahkan berpotensi menyaingi akumulasi cadangan emas negara-negara besar seperti China.

Fenomena "Emas di Bawah Bantal" dan Kebiasaan Masyarakat Indonesia

Mengapa emas sebanyak 1.800 ton tersebut masih berada di luar sistem keuangan? Jawabannya terletak pada budaya dan psikologi ekonomi masyarakat Indonesia. Sejak zaman dahulu, emas telah dianggap sebagai instrumen lindung nilai (hedging) yang paling aman dan tepercaya oleh berbagai lapisan masyarakat.

Bagi banyak keluarga di Indonesia, menyimpan emas fisik dalam bentuk perhiasan atau batangan di rumah dianggap lebih memberikan rasa aman dibandingkan menyimpannya di bank. Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan fenomena ini terus terjadi:

Faktor Kepercayaan: Sebagian masyarakat masih memiliki tingkat kepercayaan yang rendah terhadap institusi keuangan formal terkait keamanan aset mereka.

Likuiditas Tradisional: Emas fisik dianggap sangat mudah untuk dijual kembali (buyback) di toko emas lokal kapan saja saat dibutuhkan untuk kebutuhan mendesak.

Budaya Menabung: Emas seringkali menjadi simbol status sosial sekaligus alat tabungan jangka panjang yang dianggap lebih "nyata" dibandingkan angka-angka di dalam buku tabungan.

Minimnya Literasi Keuangan Digital: Belum semua lapisan masyarakat memahami bahwa saat ini emas dapat dikelola secara digital melalui platform yang terintegrasi dengan sistem perbankan nasional.