DWJ Manajement - PORTAL

RI Punya Harta Karun di Bawah Bantal, Bisa Saingi China!

Oleh: DWJ-Manajement 22 Aug 2026
RI Punya Harta Karun di Bawah Bantal, Bisa Saingi China!

Tantangan dan Langkah Strategis ke Depan

Mengonversi kebiasaan masyarakat dari menyimpan emas fisik secara tradisional menjadi aset digital atau aset perbankan bukanlah perkara mudah. Pemerintah dan otoritas terkait menghadapi tantangan yang sangat kompleks, mulai dari masalah pajak hingga edukasi.

Beberapa langkah yang perlu diambil untuk mewujudkan potensi ini antara lain:

Digitalisasi Emas: Pengembangan platform emas digital yang aman, transparan, dan diawasi ketat oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar masyarakat merasa aman melakukan transaksi tanpa harus memegang fisik emas.

Kemudahan Regulasi: Menyederhanakan proses administrasi dan perpajakan bagi masyarakat yang ingin menyetorkan emas fisik mereka ke lembaga keuangan resmi.

Edukasi Literasi Keuangan: Kampanye masif mengenai manfaat ekonomi dari menyimpan emas dalam sistem, seperti kemampuan untuk mendapatkan pinjaman dengan bunga rendah atau keuntungan dari investasi emas berbasis digital.

Integrasi dengan Sistem Perbankan: Memperkuat layanan gold banking di mana emas dapat digunakan sebagai instrumen investasi maupun jaminan kredit secara instan.

Pemerintah tidak boleh hanya melihat ini sebagai potensi pendapatan pajak, melainkan sebagai upaya strategis untuk membangun ketahanan ekonomi nasional yang berbasis pada aset riil.

Kesimpulan

Keberadaan 1.800 ton emas yang masih berada di luar sistem keuangan adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, ia menunjukkan ketidakmampuan sistem keuangan formal kita dalam merangkul seluruh kekayaan masyarakat. Di sisi lain, ia adalah "harta karun" raksasa yang bisa menjadi kunci lompatan ekonomi Indonesia ke level dunia.

Jika Indonesia berhasil menjalankan strategi integrasi emas secara efektif, nilai US$ 252 miliar tersebut bukan lagi sekadar angka di atas kertas, melainkan mesin penggerak utama yang akan memperkuat Rupiah, memperbesar cadangan devisa, dan menempatkan Indonesia sejajar dengan kekuatan ekonomi besar dunia seperti China. Momentum ini harus segera dimanfaatkan melalui kolaborasi antara pemerintah, perbankan, dan kesadaran masyarakat akan pentingnya ekonomi formal.