DWJ Manajement - PORTAL

Rosan Buka Suara soal Proyek Data Center di Jatiluhur Disetop Pemprov Jabar

Oleh: DWJ-Manajement • 30 Sep 2026
Rosan Buka Suara soal Proyek Data Center di Jatiluhur Disetop Pemprov Jabar

Proyek Data Center Jatiluhur Dihentikan Pemprov Jabar, Rosan Roeslani Janji Lakukan Mediasi

JAKARTA - Kabar mengejutkan datang dari sektor infrastruktur digital nasional. Proyek pembangunan pusat data atau data center yang direncanakan berlokasi di kawasan Jatiluhur, Jawa Barat, dikabarkan terhenti akibat keputusan dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat. Menanggapi dinamika tersebut, Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani, menyatakan akan segera mengambil langkah strategis untuk menjembatani persoalan ini.

Rosan menegaskan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam melihat potensi investasi besar dalam sektor teknologi ini terhambat oleh kendala administratif maupun koordinasi di tingkat daerah. Menurutnya, komunikasi intensif dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat menjadi prioritas utama guna mencari jalan tengah yang menguntungkan semua pihak, baik bagi investor maupun bagi kepentingan daerah.

Ketegangan Antara Kebijakan Pusat dan Daerah

Penghentian proyek data center di Jatiluhur ini memicu diskursus mengenai sinkronisasi kebijakan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Di satu sisi, pemerintah pusat melalui Kementerian Investasi tengah gencar mendorong pembangunan infrastruktur digital sebagai fondasi utama ekonomi digital Indonesia. Di sisi lain, pemerintah daerah memiliki kewenangan dalam mengatur tata ruang, perizinan, dan dampak lingkungan di wilayahnya masing-masing.

Meskipun alasan spesifik penghentian oleh Pemprov Jawa Barat belum dirinci secara mendalam dalam pernyataan resmi terakhir, isu mengenai kesesuaian tata ruang (RDTR), dampak lingkungan, hingga koordinasi dengan masyarakat lokal seringkali menjadi faktor krusial dalam proyek-proyek berskala besar. Rosan Roeslani menyadari bahwa hambatan semacam ini jika tidak segera ditangani dapat memberikan sinyal negatif bagi para investor global yang tengah melirik Indonesia sebagai hub digital di Asia Tenggara.

“Kami akan berkomunikasi langsung dengan Pemprov Jawa Barat terkait hal ini. Penting bagi kami untuk memahami duduk perkaranya secara utuh agar kita bisa menemukan solusi yang tepat,” ujar Rosan kepada awak media.

Mengapa Data Center Begitu Strategis bagi Indonesia?

Keputusan untuk mengawal proyek ini secara langsung menunjukkan betapa krusialnya keberadaan data center bagi masa depan ekonomi nasional. Di era kecerdasan buatan (AI) dan komputasi awan (cloud computing) yang berkembang pesat, penguasaan terhadap infrastruktur penyimpanan data menjadi bentuk kedaulatan digital sebuah negara.

Beberapa alasan utama mengapa pemerintah sangat berkepentingan memastikan proyek-proyek ini berjalan lancar antara lain:

Kedaulatan Data Nasional: Memastikan data strategis masyarakat dan negara disimpan di dalam negeri guna memperkuat keamanan nasional.

Pertumbuhan Ekonomi Digital: Infrastruktur yang mumpuni akan mempercepat adopsi teknologi bagi UMKM, startup, hingga korporasi besar.

Penyerapan Investasi Asing (FDI): Sektor teknologi adalah salah satu penyumbang arus modal asing terbesar yang dapat memperkuat cadangan devisa.

Penciptaan Lapangan Kerja Berkualitas: Meskipun bersifat infrastruktur teknologi, pembangunan dan operasionalnya membutuhkan tenaga kerja terampil di bidang IT dan teknis.

Tantangan Iklim Investasi di Tingkat Regional

Kasus Jatiluhur ini menjadi pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan bahwa kemudahan berinvestasi tidak hanya bergantung pada regulasi di tingkat Jakarta, tetapi juga pada kemudahan di tingkat daerah. Rosan Roeslani menekium bahwa kepastian hukum dan kecepatan perizinan di daerah adalah kunci utama dalam menjaga kepercayaan investor.

Seringkali, terjadi gap informasi antara apa yang telah disetujui di tingkat pusat dengan implementasi di lapangan oleh pemerintah daerah. Hal ini sering kali berujung pada penghentian proyek secara tiba-tiba, yang pada akhirnya merugikan kredibilitas Indonesia di mata dunia internasional. Oleh karena itu, peran BKPM sebagai dirigen investasi nasional menjadi sangat vital untuk memastikan adanya harmonisasi kebijakan.

Selain itu, ada beberapa tantangan klasik yang sering dihadapi dalam proyek infrastruktur digital di daerah, di antaranya:

Sinkronisasi Tata Ruang: Ketidaksesuaian antara rencana lokasi proyek dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) daerah.

Isu Lingkungan dan Sosial: Kekhawatiran masyarakat lokal mengenai penggunaan sumber daya air atau dampak pembangunan terhadap lingkungan sekitar.

Birokrasi Perizinan: Proses administrasi yang berbelit-belit atau adanya perubahan regulasi mendadak di tingkat daerah.

Langkah Mediasi dan Mencari Titik Temu

Rosan Roeslani berencana untuk membawa masalah ini ke meja dialog. Fokus utama dari komunikasi tersebut adalah untuk mendengarkan keberatan atau kendala teknis yang dihadapi oleh Pemprov Jawa Barat. Apakah masalahnya terletak pada aspek lingkungan, tata ruang, atau ada aspek legalitas lain yang belum terpenuhi?

Dengan adanya mediasi ini, diharapkan akan muncul skema solusi yang tidak merugikan kepentingan daerah namun tetap memberikan kepastian bagi investor. Pemerintah pusat ingin memastikan bahwa pembangunan data center di Jatiluhur tidak hanya menguntungkan sisi ekonomi makro, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi masyarakat Jawa Barat melalui tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dan peningkatan infrastruktur lokal.

“Kami ingin memastikan bahwa investasi yang masuk ke Indonesia, khususnya di Jawa Barat, dapat berjalan selaras dengan rencana pembangunan daerah. Tidak boleh ada ego sektoral yang menghambat kemajuan ekonomi nasional,” tambah Rosan.

Masa Depan Infrastruktur Digital di Jawa Barat

Jawa Barat, dengan konektivitas yang baik dan kedekatannya dengan ibu kota, merupakan lokasi yang sangat ideal untuk pengembangan pusat data. Kawasan Jatiluhur memiliki potensi geografis yang mendukung, namun tantangan koordinasi tetap menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah.

Jika proyek ini berhasil diselesaikan dan dijalankan, Jawa Barat berpotensi menjadi pusat gravitasi teknologi baru di Indonesia. Keberadaan data center akan memicu pertumbuhan ekosistem pendukung lainnya, seperti penyedia layanan internet (ISP), perusahaan keamanan siber, hingga pusat riset teknologi.

Namun, jika hambatan ini berlarut-larut, ada risiko para investor akan mengalihkan modal mereka ke negara tetangga seperti Singapura atau Malaysia yang telah lebih dulu mapan dalam hal kepastian regulasi dan kemudahan infrastruktur digital.

Kesimpulan

Penghentian proyek data center di Jatiluhur oleh Pemprov Jawa Barat merupakan sebuah tantangan bagi upaya sinkronisasi kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah. Langkah Menteri Investasi Rosan Roeslani untuk melakukan komunikasi langsung merupakan langkah yang tepat guna meredam ketidakpastian di mata investor. Keberhasilan mediasi ini akan menjadi ujian penting bagi kredibilitas iklim investasi Indonesia dalam menjaga keseimbangan antara otonomi daerah dan target pertumbuhan ekonomi digital nasional. Semua pihak kini menanti solusi konkret agar proyek strategis ini dapat kembali berjalan demi mendukung kedaulatan data dan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.

Menampilkan Seluruh Artikel