Efisiensi Lahan: Memungkinkan pembangunan hunian dengan kepadatan yang terukur namun tetap nyaman, sehingga sisa lahan dapat digunakan untuk ruang terbuka hijau dan fasilitas umum.
Aksesibilitas Tinggi: Hunian vertikal biasanya dirancang terintegrasi dengan jalur transportasi publik, memudahkan pekerja industri untuk berangkat dan pulang kerja dengan biaya rendah.
Fasilitas Terpadu: Dengan konsep satu atap, penghuni dapat dengan mudah mengakses fasilitas seperti taman bermain, area olahraga, tempat ibadah, hingga pusat perbelanjaan skala kecil di dalam kawasan.
Keamanan Terjamin: Sistem keamanan terpusat pada hunian vertikal memberikan rasa aman yang lebih tinggi bagi keluarga MBR.
Dengan target 141 ribu unit, proyek ini akan menjadi salah satu proyek penyediaan hunian vertikal terbesar di Indonesia, yang diharapkan mampu menjadi cetak biru (blueprint) bagi pengembangan kawasan hunian pekerja di kota-kota industri lainnya.
Dampak Multiplier: Menggerakkan Roda Ekonomi 600 Ribu Jiwa
Rosan menyoroti bahwa angka 600.000 masyarakat yang terdampak bukan sekadar statistik di atas kertas. Dampak ini bersifat "multiplier effect" atau efek pengganda yang menyentuh berbagai lapisan ekonomi. Ketika sebuah kawasan hunian baru dibangun, ada rantai ekonomi panjang yang ikut bergerak.
Pertama, pada fase konstruksi, ribuan tenaga kerja lokal akan terserap, mulai dari buruh bangunan, teknisi, hingga manajemen proyek. Kedua, setelah hunian tersebut beroperasi, akan muncul kebutuhan akan jasa layanan domestik, pengelolaan sampah, keamanan, hingga pemeliharaan gedung yang akan membuka lapangan kerja baru bagi warga sekitar.
Ekosistem Ekonomi di Sekitar Kawasan Hunian
Kehadiran ratusan ribu penghuni di satu kawasan akan menciptakan pasar baru bagi sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Berikut adalah beberapa sektor yang akan merasakan dampak langsungnya: