Namun, tidak ada kejayaan yang abadi tanpa tantangan. Memasuki era 2010-an, dunia ritel mengalami guncangan hebat yang dikenal sebagai era disrupsi digital. Perubahan perilaku konsumen menjadi ancaman paling nyata bagi model bisnis konvensional yang dijalankan oleh Matahari. Munculnya platform e-commerce seperti Shopee, Tokopedia, dan Lazada mengubah cara masyarakat berinteraksi dengan barang konsumsi.
Masyarakat tidak lagi merasa perlu untuk pergi ke mal, menghadapi kemacetan, dan mengantre di kasir. Hanya dengan beberapa klik di smartphone, barang impian sudah sampai di depan pintu rumah dengan harga yang seringkali jauh lebih murah karena minimnya biaya operasional fisik. Fenomena ini menciptakan tekanan luar biasa pada margin keuntungan perusahaan ritel fisik.
Matahari menghadapi beberapa tantangan krusial yang hampir meruntuhkan eksistensinya:
1. Perubahan Perilaku Belanja Generasi Z dan Milenial
Generasi muda yang kini menjadi motor penggerak ekonomi lebih menyukai kepraktisan belanja daring. Loyalitas terhadap merek ritel fisik mulai memudar, digantikan oleh pencarian harga termurah dan kemudahan akses di platform digital.
2. Biaya Operasional yang Tinggi
Mempertahankan ratusan gerai fisik berarti harus menanggung biaya sewa mal yang tinggi, biaya listrik yang membengkak, hingga biaya tenaga kerja yang terus meningkat. Di sisi lain, pendapatan dari kunjungan fisik ke toko terus merosot tajam.
3. Dampak Pandemi Global
Pandemi COVID-19 menjadi pukulan telak. Kebijakan pembatasan sosial membuat mal-mal sepi, dan secara otomatis, pendapatan Matahari terjun bebas. Pada titik ini, banyak analis meragukan apakah sang "Raja Ritel" ini mampu bertahan atau justru akan menjadi sejarah.
Era Baru: Pengambilalihan oleh Kekuatan Konglomerat
Di saat banyak pihak mengira Matahari akan segera tumbang, sebuah babak baru justru dimulai. Dinamika kepemilikan perusahaan mengalami perubahan signifikan. Di sinilah peran keluarga konglomerat masuk ke dalam panggung utama. Perubahan struktur kepemilikan ini bukan sekadar pergantian nama di atas kertas, melainkan sebuah upaya penyelamatan strategis melalui suntikan modal dan restrukturisasi besar-besaran.
Masuknya kelompok konglomerat memberikan stabilitas finansial yang sangat dibutuhkan untuk melakukan pivot bisnis. Dengan dukungan grup besar, Matahari memiliki napas lebih panjang untuk melakukan adaptasi terhadap ekosistem digital yang sedang berkembang. Mereka tidak lagi hanya mengandalkan kunjungan fisik, tetapi mulai merambah ke strategi omnichannel.
Langkah-langkah strategis yang diambil dalam fase transisi ini meliputi: