Biaya Logistik yang Tinggi: Infrastruktur logistik yang belum sepenuhnya terintegrasi membuat biaya distribusi barang dari produsen ke konsumen menjadi mahal.
Kesenjangan Teknologi: Masih banyak industri manufaktur, terutama skala menengah ke bawah, yang belum mengadopsi teknologi industri 4.0, sehingga efisiensi produksi sulit dicapai.
Biaya Energi dan Operasional: Fluktuasi harga energi dan regulasi terkait biaya operasional industri seringkali menjadi beban tambahan bagi pengusaha.
Kualitas Sumber Daya Manusia: Ketersediaan tenaga kerja terampil yang mampu mengoperasikan teknologi manufaktur modern masih menjadi tantangan besar.
Perspektif HIPMI: Pentingnya Penguatan Rantai Pasok Domestik
Ketua BPP HIPMI, Ade Jona Prasetyo, menekankan bahwa kunci untuk membalikkan keadaan ini terletak pada penguatan ekosistem industri di dalam negeri. Menurutnya, pemerintah dan pelaku usaha harus bersinergi untuk membangun rantai pasok yang kuat dan mandiri.
"Kita tidak bisa terus-menerus bergantung pada impor untuk bahan baku utama. Ini adalah titik lemah kita. Jika kita ingin manufaktur tumbuh, kita harus memastikan bahwa bahan baku yang dibutuhkan industri dapat diproduksi di dalam negeri melalui penguatan sektor hulu," tegas Ade Jona.
Penguatan rantai pasok domestik bukan hanya soal mengurangi impor, tetapi juga tentang menciptakan integrasi antara industri besar dengan industri kecil dan menengah (IKM). Dengan melibatkan IKM sebagai penyedia komponen atau bahan baku pendukung, ekonomi akan tumbuh lebih inklusif dan menciptakan lapangan kerja yang lebih luas di berbagai daerah.
Mendorong Hilirisasi Industri yang Lebih Luas
Hilirisasi telah menjadi agenda utama pemerintah dalam beberapa tahun terakhir. Namun, Ade Jona menekankan bahwa hilirisasi tidak boleh hanya terbatas pada sektor pertambangan saja. Hilirisasi harus menyentuh berbagai sektor manufaktur lainnya, termasuk sektor pertanian, perkebunan, dan kelautan.
Dengan melakukan pengolahan bahan mentah menjadi produk setengah jadi atau barang jadi di dalam negeri, nilai tambah yang dihasilkan akan jauh lebih besar. Hal ini akan memperkuat struktur industri nasional dan memberikan posisi tawar yang lebih tinggi bagi Indonesia dalam perdagangan internasional.
Peran Pemerintah dalam Menciptakan Iklim Investasi yang Kondusif