Realitanya, sebagian besar startup di Indonesia masih terjebak dalam model bisnis "copycat" atau meniru model bisnis yang sudah sukses di negara maju, namun disesuaikan dengan pasar lokal. Meskipun model ini efektif untuk pertumbuhan cepat, ia memiliki keterbatasan dalam menciptakan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan di level global.
Penyebab Utama Rendahnya Mutu Startup Nasional
Mengapa ada jurang pemisah yang begitu dalam antara jumlah dan mutu? Para pengamat ekonomi dan teknologi mengidentifikasi beberapa akar permasalahan yang saling berkelindan.
1. Minimnya Investasi pada Riset dan Pengembangan (R&D)
Berbeda dengan startup di Amerika Serikat, China, atau Israel yang sangat kuat di bidang Deep Tech (teknologi berbasis sains mendalam), startup di Indonesia lebih banyak bergerak di sektor layanan (service-based). Fokus utama masih pada penyediaan platform perantara antara penjual dan pembeli atau penyedia jasa dan pengguna. Kurangnya investasi pada riset dan pengembangan membuat startup kita sulit menciptakan paten teknologi yang bisa menjadi benteng pertahanan bisnis.
2. Kesenjangan Talenta Digital Berkualitas
Meskipun jumlah lulusan perguruan tinggi meningkat, kebutuhan akan talenta digital tingkat lanjut seperti Artificial Intelligence (AI) Engineer, Data Scientist tingkat tinggi, dan Cybersecurity Expert masih sangat besar. Banyak startup yang kesulitan mendapatkan talenta lokal yang mumpuni, sehingga sering kali harus mendatangkan tenaga ahli dari luar negeri, yang pada akhirnya meningkatkan beban operasional mereka.
3. Mentalitas "Growth at All Costs"
Selama satu dekade terakhir, ekosistem startup didorong oleh paradigma pertumbuhan pengguna dan volume transaksi (GMV) sebesar-besarnya. Hal ini menciptakan budaya "bakar uang" demi mendapatkan pangsa pasar. Akibatnya, banyak startup yang terlihat sangat besar secara angka, namun secara fundamental keuangan sangat rapuh. Ketika musim dingin pendanaan (funding winter) melanda, banyak dari mereka yang tidak mampu bertahan karena kualitas model bisnis yang tidak sehat.
Transformasi Industri: Menghubungkan Startup dengan Sektor Manufaktur
Menperin Agus Gumiwang menekterkan bahwa digitalisasi tidak boleh berdiri sendiri sebagai entitas yang terpisah dari sektor riil. Tantangan ke depan adalah bagaimana startup dapat diintegrasikan ke dalam rantai pasok industri manufaktur nasional.
Pemerintah mendorong agar startup tidak hanya fokus pada sektor konsumsi (B2C), tetapi juga mulai merambah ke sektor industri (B2B). Digitalisasi pada sektor manufaktur, seperti penggunaan Internet of Things (IoT) dalam pabrik, sistem manajemen logistik berbasis AI, hingga platform perdagangan bahan baku industri, akan meningkatkan nilai tambah startup secara signifikan. Dengan masuk ke sektor industri, startup akan dipaksa untuk meningkatkan standar teknologi dan reliabilitas produk mereka, yang secara otomatis akan mendongkrak peringkat mutu mereka.