DWJ Manajement - PORTAL

Swipe Sekali, Rp23 M Melayang! Ini Sisi Gelap Startup Live Belanja

Oleh: DWJ-Manajement 05 Aug 2026
Swipe Sekali, Rp23 M Melayang! Ini Sisi Gelap Startup Live Belanja

Secara ekonomi, live shopping memang memberikan pertumbuhan luar biasa bagi para pedagang kecil dan UMKM yang mampu memanfaatkan platform ini dengan bijak. Namun, di sisi lain, model bisnis yang hanya mengejar retensi pengguna melalui adiksi merupakan model yang tidak berkelanjutan secara etis. Pertumbuhan yang didorong oleh kerugian finansial konsumen pada akhirnya akan menciptakan ketidakstabilan ekonomi di tingkat akar rumput.

Cara Melindungi Diri dari Jebakan Live Shopping

Sebelum tren ini semakin tak terkendali, konsumen perlu memiliki literasi digital dan finansial yang kuat. Menghindari jebakan belanja impulsif memerlukan disiplin diri dan pemahaman akan cara kerja platform.

Berikut adalah beberapa langkah praktis yang bisa Anda terapkan:

Tetapkan Anggaran Tetap: Selalu tentukan batas maksimal uang yang boleh dikeluarkan untuk hiburan dan belanja setiap bulannya.

Hindari Menonton Saat Emosional: Jangan membuka aplikasi belanja saat Anda merasa bosan, stres, atau sedih, karena pada saat itulah kontrol diri Anda berada di titik terendah.

Gunakan Aturan 24 Jam: Jika melihat barang yang sangat diinginkan saat live streaming, jangan langsung membelinya. Tunggu 24 jam. Jika setelah 24 jam Anda masih merasa butuh, barulah pertimbangkan untuk membeli.

Matikan Notifikasi: Notifikasi aplikasi sering kali menjadi pemicu utama untuk kembali masuk ke dalam aplikasi secara tidak sengaja.

Kesimpulan

Fenomena live shopping seperti yang dipopulerkan oleh Whatnot adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, ia menawarkan pengalaman belanja yang interaktif dan modern, namun di sisi lain, ia menyimpan sisi gelap yang dapat merusak stabilitas finansial dan mental penggunanya. Mekanisme yang menyerupai perjudian, tekanan psikologis FOMO, dan manipulasi dopamin adalah ancaman nyata yang tidak boleh disepelekan.

Dibutuhkan kolaborasi antara regulasi pemerintah yang ketat, tanggung jawab etis dari para pemilik startup, serta kesadaran tinggi dari konsumen untuk memastikan bahwa tren ini tidak berubah menjadi bencana ekonomi massal yang menghancurkan masa depan banyak orang hanya dalam satu kali "swipe".