Meskipun menawarkan solusi cepat dan murah, kebijakan ini bukannya tanpa tantangan. Para ahli transportasi mengingatkan bahwa impor kereta bekas memerlukan kesiapan manajemen perawatan yang sangat matang. Ada beberapa tantangan utama yang harus dihadapi oleh operator kereta api di Indonesia:
Pertama, terkait ketersediaan suku cadang (spare parts). Kereta bekas biasanya berasal dari sistem yang sudah digunakan oleh negara asalnya. Jika negara tersebut sudah beralih ke model baru, maka mencari suku cadang untuk model lama akan menjadi tantangan tersendiri. Indonesia harus memastikan bahwa kontrak pengadaan mencakup jaminan ketersediaan suku cadang untuk jangka waktu tertentu, atau melakukan modifikasi sistem agar kompatibel dengan suku cadang lokal.
Kedua, standarisasi teknologi. Sistem persinyalan dan komunikasi di Jabodetabek terus berkembang. Kereta bekas yang akan didatangkan harus mampu "berbicara" atau terintegrasi dengan sistem persinyalan yang ada di Indonesia agar tidak terjadi kendala operasional saat kereta berjalan di jalur yang sudah tersentralisasi.
Ketiga, proses refurbishment yang intensif. Begitu kereta tiba, unit tersebut tidak bisa langsung digunakan. Diperlukan waktu untuk membongkar, mengecek setiap komponen, mengganti bagian yang aus, hingga melakukan pengecatan ulang dan peningkatan sistem interior agar sesuai dengan standar kenyamanan penumpang di Indonesia.
Perbandingan: Kereta Baru vs Kereta Bekas
Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas bagi publik, berikut adalah perbandingan antara pengadaan kereta baru dengan pengadaan kereta bekas yang memenuhi syarat:
Aspek Perbandingan
Kereta Baru (New)
Kereta Bekas (Max 20 Thn)
Biaya Investasi
Sangat Tinggi
Relatif Rendah/Terjangkau
Waktu Pengadaan