Mengapa keberadaan pengelola dana triliunan rupiah ini dianggap sebagai kekuatan yang "tak terduga"? Jawabannya terletak pada kapasitas likuiditas dan mekanisme pengambilan keputusan mereka. Saat terjadi koreksi pasar, kelompok investor institusional ini seringkali melihatnya sebagai peluang untuk melakukan akumulasi aset pada harga yang lebih murah.
Berikut adalah beberapa alasan mengapa pengelola dana besar menjadi pilar stabilitas pasar saham RI:
Orientasi Fundamental: Berbeda dengan trader harian, pengelola dana besar fokus pada kesehatan laporan keuangan perusahaan, prospek industri, dan kebijakan makroekonomi. Hal ini mencegah terjadinya "bubble" atau gelembung harga yang tidak rasional.
Kapasitas Absorpsi Likuiditas: Dengan mengelola dana hingga triliunan rupiah, mereka memiliki kemampuan untuk menyerap suplai saham yang melimpah saat terjadi aksi jual massal, sehingga harga tidak jatuh terlalu dalam.
Stabilitas Psikologi Pasar: Kehadiran institusi besar memberikan rasa percaya diri bagi investor lain bahwa pasar memiliki dukungan likuiditas yang cukup, sehingga mencegah terjadinya efek domino kepanikan (panic selling).
Investasi Jangka Panjang: Aliran dana mereka cenderung menetap dalam waktu lama (sticky money), yang memberikan kepastian arus kas dan stabilitas pada emiten-emiten blue chip di Indonesia.
Misbakhun juga menambahkan bahwa kekuatan ini adalah bagian dari ekosistem keuangan domestik yang semakin matang. Pertumbuhan industri pengelolaan aset di Indonesia dalam satu dekade terakhir telah mengubah struktur pasar modal kita, dari yang dulunya sangat bergantung pada aliran dana asing (foreign flow), kini menjadi lebih mandiri dengan dominasi investor domestik yang kuat.