Rupiah seringkali menjadi korban pertama dari gejolak global. Jika rupiah melemah terlalu dalam, biaya impor bahan baku industri akan melonjak, yang pada akhirnya akan diteruskan kepada konsumen dalam bentuk kenaikan harga barang. Hal ini dapat memicu spiral inflasi yang dapat menggerus daya beli masyarakat kelas menengah dan bawah.
Oleh karena itu, Destry akan dituntut untuk sangat lincah dalam menggunakan instrumen kebijakan moneter. Apakah akan menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) untuk menahan arus modal keluar, atau justru menjaga suku bunga tetap kompetitif untuk mendukung ekspansi kredit dan pertumbuhan ekonomi? Ini adalah dilema klasik yang akan menjadi makanan sehari-hari bagi Gubernur BI yang baru.
Menyeimbangkan Pertumbuhan dan Stabilitas
Pemerintahan Prabowo memiliki agenda besar untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi. Dalam konteks ini, Bank Indonesia memiliki peran ganda yang cukup menantang. Di satu sisi, BI harus menjaga stabilitas (stabilitas harga dan nilai tukar), namun di sisi lain, kebijakan moneter juga harus mampu mendukung sektor riil agar dapat tumbuh secara berkelanjutan.
Kebijakan moneter yang terlalu ketat (hawkish) dengan suku bunga tinggi memang efektif untuk meredam inflasi dan menguatkan rupiah, namun risikoninya adalah melambatnya penyaluran kredit perbankan dan terhambatnya investasi. Sebaliknya, kebijakan yang terlalu longgar (dovish) untuk merangsang pertumbuhan dapat berisiko melemahkan nilai tukar dan memicu kenaikan inflasi.
Kemampuan Destry dalam mengomunikasikan kebijakan (policy communication) akan menjadi kunci. Pasar membutuhkan kepastian. Komunikasi yang transparan, kredibel, dan terukur akan membantu pasar untuk mengantisipasi langkah BI, sehingga mengurangi volatilitas yang tidak perlu di pasar keuangan.
Kesimpulan
Penunjukan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia merupakan langkah strategis sekaligus tantangan besar bagi pemerintahan Prabowo Subianto. Destry tidak hanya memikul tanggung jawab untuk menjaga stabilitas moneter nasional, tetapi juga harus mampu menavigasi Indonesia di tengah badai ekonomi global yang penuh ketidakpastian. Keberhasilannya dalam menyeimbangkan antara menjaga stabilitas nilai tukar, mengendalikan inflasi, dan tetap mendukung agenda pertumbuhan ekonomi pemerintah akan menjadi ujian utama bagi kredibilitas kepemimpinannya di bank sentral. Fokus pada kebijakan yang pro-stabilitas namun tetap akomodatif terhadap pertumbuhan akan menjadi kunci utama dalam menjaga ketahanan ekonomi Indonesia ke depan.