Banyak pabrik, terutama di sektor tekstil, alas kaki, dan manufaktur berat, mulai menutup operasionalnya. Hal ini disebabkan oleh ketidakmampuan industri lokal untuk bersaing dengan efisiensi produksi dari negara lain. Akibatnya, sektor manufaktur yang secara historis mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, kini justru menjadi penyumbang PHK terbesar. Pergeseran ekonomi ke sektor jasa yang belum mampu menyerap tenaga kerja terampil secara maksimal membuat terjadinya ketimpangan antara ketersediaan lapangan kerja dan jumlah angkatan kerja.
2. Melemahnya Daya Beli dan Tekanan Inflasi
Masalah kedua berkaitan langsung dengan kondisi konsumsi rumah tangga. Said Iqbal menjelaskan bahwa penurunan daya beli masyarakat merupakan faktor krusial yang memaksa perusahaan melakukan efisiensi melalui PHK. Ketika masyarakat kelas menengah dan bawah tidak lagi memiliki kekuatan finansial untuk belanja, permintaan terhadap barang dan jasa menurun drastis.
Penurunan permintaan ini mengakibatkan penurunan omzet perusahaan. Dalam upaya menjaga keberlangsungan bisnis dan menekan biaya operasional (cost reduction), langkah paling ekstrem yang sering diambil oleh manajemen perusahaan adalah memangkas jumlah karyawan. Hal ini menciptakan lingkaran setan: PHK menyebabkan daya beli turun, daya beli yang turun menyebabkan permintaan berkurang, dan permintaan yang berkurang memicu PHK lebih lanjut.
Faktor inflasi, terutama pada komponen kebutuhan pokok seperti pangan dan energi, turut memperparah situasi ini. Upah yang tidak tumbuh sebanding dengan kenaikan harga barang membuat margin pendapatan masyarakat semakin menipis, sehingga konsumsi domestik yang selama ini menjadi mesin penggerak ekonomi nasional mulai kehilangan daya dorongnya.
3. Serbuan Barang Impor dan Persaingan Global yang Tidak Seimbang
Masalah ketiga yang tidak kalah penting adalah derasnya arus barang impor yang masuk ke pasar domestik. Said Iqbal menyoroti bahwa kebijakan perdagangan yang belum sepenuhnya protektif terhadap industri dalam negeri telah membuka pintu lebar bagi produk-produk impor, terutama dari negara-negara dengan biaya produksi yang sangat rendah.
Produk impor yang harganya jauh lebih murah merusak struktur harga di pasar lokal. Produsen dalam negeri, yang harus menanggung beban biaya energi, logistik, dan upah yang lebih tinggi, tidak mampu bersaing secara harga. Kondisi ini membuat produk lokal ditinggalkan oleh konsumen, yang pada akhirnya menyebabkan penurunan kapasitas produksi pabrik-pabrik di dalam negeri. Ketika kapasitas produksi turun, kebutuhan akan tenaga kerja pun ikut menyusut, yang secara langsung berujung pada gelombang pemutusan hubungan kerja secara massal.
Dampak Sosial dan Risiko Ketidakstabilan Nasional
Jika pemerintah tidak segera mengambil langkah-langkah strategis untuk memitigasi tiga masalah di atas, dampak yang ditimbulkan akan jauh lebih besar daripada sekadar angka pengangguran. Said Iqbal memperingatkan adanya risiko sosial yang nyata: