DWJ Manajement - PORTAL

Tinjau Penggilingan di Jateng, Dirut BULOG: Kualitas Jadi Kunci Kelola CBP

Oleh: DWJ-Manajement 30 Jul 2026
Tinjau Penggilingan di Jateng, Dirut BULOG: Kualitas Jadi Kunci Kelola CBP

Dirut BULOG Tinjau Penggilingan di Jawa Tengah, Tekankan Kualitas Tinggi sebagai Kunci Kelola Cadangan Beras Pemerintah

SEMARANG - Direktur Utama Perum BULOG, Ahmad Rizal, melakukan kunjungan kerja strategis ke sejumlah titik penggilingan padi di wilayah Jawa Tengah. Kunjungan ini dilakukan dalam rangka memastikan kualitas beras yang masuk ke dalam skema Cadangan Beras Pemerintah (CBP) tetap memenuhi standar mutu tinggi guna menjaga ketahanan pangan nasional.

Dalam peninjauannya, Ahmad Rizal menekankan bahwa pengelolaan CBP tidak boleh hanya berorientasi pada ketersediaan stok atau kuantitas semata. Menurutnya, aspek kualitas menjadi variabel paling krusial yang menentukan keberhasilan peran BULOG dalam menjaga stabilitas pangan di masyarakat.

Kualitas Beras Menjadi Prioritas Utama dalam Pengelolaan CBP

Kunjungan lapangan ini bertujuan untuk melihat secara langsung proses pasca-panen yang dilakukan oleh para mitra penggilingan. Ahmad Rizal menjelaskan bahwa kualitas beras yang tersimpan dalam cadangan pemerintah akan sangat berpengaruh terhadap kepercayaan masyarakat dan efektivitas program-program pemerintah, seperti penyaluran Bantuan Pangan.

Jika kualitas beras yang dikelola oleh BULOG tidak terjaga—misalnya mengalami penurunan mutu akibat penyimpanan yang salah atau proses penggilingan yang tidak standar—maka manfaat dari program bantuan tersebut tidak akan optimal. Oleh karena itu, standarisasi sejak dari tingkat penggilingan adalah harga mati.

“Kualitas adalah kunci. Kita tidak hanya bicara tentang seberapa banyak stok yang kita miliki di gudang, tetapi seberapa layak beras tersebut dikonsumsi oleh masyarakat. Cadangan Beras Pemerintah (CBP) haruslah beras dengan kualitas prima agar mampu menjaga stabilitas harga sekaligus memenuhi kebutuhan gizi masyarakat,” ujar Ahmad Rizal di sela-sela peninjauannya di Jawa Tengah.

Beberapa aspek teknis yang menjadi perhatian utama dalam pengawasan kualitas ini meliputi:

Kadar Air: Memastikan tingkat kekeringan beras sesuai standar agar tidak mudah berjamur saat disimpan dalam jangka waktu lama.

Persentase Butir Patah (Broken): Menjaga agar proporsi butir patah tetap dalam batas wajar sesuai kelas mutu yang ditetapkan.

Kebersihan dan Kemurnian: Memastikan beras bebas dari kotoran, kutu, maupun kontaminan lainnya.

Aroma dan Warna: Menjaga karakteristik fisik beras agar tetap segar dan menarik bagi konsumen.

Pemberdayaan Penggilingan Rakyat sebagai Pilar Strategis

Selain fokus pada standarisasi mutu, kunjungan Dirut BULOG ini juga membawa misi penting lainnya, yaitu pemberdayaan penggilingan rakyat. Jawa Tengah, sebagai salah satu lumbung pangan nasional, memiliki ribuan unit penggilingan skala kecil dan menengah yang memegang peranan vital dalam rantai pasok beras nasional.

BULOG menyadari bahwa untuk menciptakan ekosistem pangan yang kuat, perusahaan tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi dengan penggilingan rakyat harus diperkuat. BULOG berkomitmen untuk menjadi mitra strategis bagi para pengusaha penggilingan lokal, bukan sekadar pembeli hasil panen.

Ahmad Rizal menyampaikan bahwa BULOG akan terus mendorong modernisasi teknologi pada penggilingan rakyat. Dengan teknologi yang lebih baik, penggilingan rakyat dapat menghasilkan beras dengan kualitas yang setara dengan industri besar, sehingga mereka dapat bersaing dan memiliki nilai tawar yang lebih tinggi di pasar.

“Kami ingin menggandeng penggilingan rakyat. Kita berikan pembinaan, kita berikan standar, dan jika kualitas mereka memenuhi syarat, BULOG akan menyerap hasilnya. Ini adalah bentuk kolaborasi yang saling menguntungkan (win-win solution). Petani dan penggilingan mendapatkan kepastian pasar, sementara BULOG mendapatkan pasokan beras berkualitas,” tambahnya.

Langkah pemberdayaan ini diharapkan dapat memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat pedesaan di Jawa Tengah. Dengan meningkatnya kapasitas produksi dan kualitas penggilingan lokal, perputaran ekonomi di sektor agraris akan semakin kuat.

Menjaga Stabilitas Harga dan Ketahanan Pangan Nasional

Tantangan pangan global yang tidak menentu, mulai dari perubahan iklim hingga gangguan rantai pasok internasional, menuntut BULOG untuk selalu dalam kondisi siap siaga. Ketersediaan CBP yang berkualitas tinggi adalah instrumen utama pemerintah dalam melakukan intervensi pasar jika terjadi lonjakan harga beras di tingkat konsumen.

Dengan memastikan kualitas beras di tingkat penggilingan terjaga, BULOG meminimalkan risiko kerugian akibat kerusakan stok di gudang (losses). Stok yang berkualitas tinggi memiliki daya simpan yang lebih lama dan lebih mudah didistribusikan kapan pun dibutuhkan untuk meredam inflasi pangan.

Beberapa strategi jangka panjang yang tengah disiapkan BULOG dalam mengelola CBP meliputi:

Digitalisasi Pemantauan Stok: Mengintegrasikan data stok dari gudang-gudang di daerah agar ketersediaan pangan dapat dipantau secara real-time.

Perbaikan Infrastruktur Pergudangan: Menggunakan teknologi pengatur suhu dan kelembapan untuk menjaga mutu beras selama masa penyimpanan.

Penguatan Jejaring Distribusi: Memastikan jalur distribusi dari penggilingan ke gudang BULOG hingga ke tangan konsumen berjalan efektif dan efisien.

Melalui pengawasan ketat di lapangan seperti yang dilakukan di Jawa Tengah ini, BULOG optimis dapat terus menjalankan fungsinya sebagai penyangga ketahanan pangan nasional secara profesional dan akuntabel.

Kesimpulan

Kunjungan Dirut BULOG, Ahmad Rizal, ke penggilingan di Jawa Tengah menegaskan kembali bahwa kualitas beras adalah fondasi utama dalam pengelolaan Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Dengan mengedepankan standar mutu yang ketat dan melakukan pemberdayaan terhadap penggilingan rakyat, BULOG tidak hanya berupaya menjaga ketersediaan stok pangan, tetapi juga memperkuat struktur ekonomi lokal dan memastikan stabilitas harga nasional. Sinergi antara pemerintah, pelaku usaha penggilingan, dan petani menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan di masa depan.

Menampilkan Seluruh Artikel