DWJ Manajement - PORTAL

Video: Houthi Serang Riyadh, IHSG Melemah-Rupiah Anjlok Rp 17.800/USD

Oleh: DWJ-Manajement 21 Sep 2026
Video: Houthi Serang Riyadh, IHSG Melemah-Rupiah Anjlok Rp 17.800/USD

Rupiah Anjlok ke Level Rp 17.800 per Dolar AS

Sejalan dengan jatuhnya pasar saham, nilai tukar Rupiah juga mengalami tekanan yang tidak kalah berat. Rupiah secara mengejutkan meluncur melewati angka Rp 17.800 per Dolar AS. Penurunan ini merupakan salah satu yang paling signifikan dalam beberapa periode terakhir, mencerminkan besarnya kekhawatiran pasar terhadap stabilitas ekonomi makro Indonesia di tengah guncangan global.

Pelemahan Rupiah ini dipicu oleh penguatan tajam indeks Dolar AS (DXY) yang menjadi magnet utama bagi modal global saat terjadi konflik bersenjata. Ketika ketegangan meningkat, permintaan terhadap Dolar AS melonjak karena statusnya sebagai mata uang cadangan dunia yang paling likuid dan aman. Hal ini secara otomatis menekan mata uang negara-negara berkembang, termasuk Rupiah, yang dianggap memiliki risiko lebih tinggi jika terjadi guncangan ekonomi global.

Dampak dari anjloknya Rupiah ini sangat dirasakan oleh pelaku industri, terutama mereka yang memiliki ketergantungan tinggi pada impor bahan baku. Selain itu, pelemahan ini juga berpotensi meningkatkan beban utang luar negeri pemerintah maupun korporasi yang menggunakan denominasi Dolar AS, yang pada akhirnya dapat menekan neraca keuangan nasional.

Mengapa Konflik Houthi-Riyadh Berdampak Besar pada Indonesia?

Mungkin muncul pertanyaan, mengapa konflik di Timur Tengah yang secara geografis sangat jauh dari Indonesia dapat mengguncang ekonomi domestik sedemikian hebat? Jawabannya terletak pada interkoneksi ekonomi global yang sangat erat, terutama dalam aspek energi dan aliran modal.

1. Fenomena Flight to Safety

Dalam dunia keuangan, terdapat konsep yang disebut "Flight to Safety". Ketika terjadi krisis politik atau perang, investor tidak lagi mencari keuntungan (return), melainkan mencari keamanan (safety). Mereka akan menjual saham di negara-negara seperti Indonesia dan membeli aset-aset di Amerika Serikat atau emas. Perpindahan modal masif ini menyebabkan nilai mata uang kita merosot dan harga saham kita jatuh.

2. Lonjakan Harga Minyak Dunia dan Risiko Inflasi

Timur Tengah adalah jantung dari pasokan minyak mentah dunia. Serangan terhadap wilayah strategis seperti Riyadh dapat mengganggu jalur distribusi minyak atau bahkan mengancam infrastruktur produksi energi. Jika pasokan minyak terganggu, harga minyak mentah dunia (seperti Brent dan WTI) akan melonjak. Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak global dapat memperlebar defisit transaksi berjalan dan meningkatkan risiko inflasi domestik, yang memaksa Bank Indonesia untuk mengambil kebijakan moneter yang lebih ketat.

3. Tekanan pada Emerging Markets

Indonesia dikategorikan sebagai pasar negara berkembang (emerging market). Pasar jenis ini sangat sensitif terhadap perubahan selera risiko global. Ketika dunia sedang tidak stabil, aliran modal cenderung keluar dari pasar berkembang menuju pasar negara maju. Hal ini menciptakan efek domino yang merusak stabilitas nilai tukar dan indeks pasar modal di dalam negeri.