Berikut adalah beberapa syarat penting yang harus dipenuhi pemerintah dan pelaku industri:
Hilirisasi yang Mendalam dan Terintegrasi: Hilirisasi tidak boleh berhenti pada pengolahan setengah jadi seperti feronikel atau NPI (Nickel Pig Iron). Indonesia harus mampu memproduksi produk akhir atau produk antara yang sangat spesifik, seperti prekursor baterai atau katoda, yang memiliki standar kualitas internasional.
Transparansi dan Akurasi Data: Pasar global sangat bergantung pada transparansi. Indonesia perlu membangun sistem pelaporan data produksi dan stok yang akurat, transparan, dan dapat diakses oleh pelaku pasar dunia. Ketidakpastian data seringkali menjadi celah bagi spekulan untuk mengacaukan harga.
Penguatan Infrastruktur Logistik dan Pengolahan: Efisiensi adalah kunci. Keberadaan smelter yang canggih, pelabuhan khusus komoditas, serta konektivitas logistik yang mumpuni akan menurunkan biaya produksi dan membuat produk Indonesia lebih kompetitif.
Kepastian Hukum dan Regulasi yang Stabil: Investor global membutuhkan kepastian. Perubahan kebijakan yang mendadak, seperti larangan ekspor yang tidak terprediksi atau perubahan aturan royalti, dapat menurunkan kepercayaan pasar terhadap stabilitas pasar di Indonesia.
Standarisasi dan Sertifikasi Internasional: Agar produk Indonesia diakui sebagai acuan, kualitasnya harus memenuhi standar global yang ketat, termasuk aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG - Environmental, Social, and Governance).
Tantangan Implementasi di Lapangan
Meskipun syarat-syarat di atas sudah jelas, implementasinya di lapangan tidaklah mudah. Indonesia menghadapi tantangan besar dalam hal penyediaan energi bersih untuk operasional smelter. Mengingat dunia sedang bergerak menuju ekonomi hijau, penggunaan energi batu bara dalam proses pengolahan nikel justru bisa menjadi bumerang bagi citra produk Indonesia di pasar global.