Literasi Digital Produktif: Kemampuan menggunakan platform digital untuk kegiatan ekonomi, seperti berjualan online, manajemen bisnis digital, hingga pemanfaatan teknologi untuk pertanian dan perikanan.
Keamanan Digital (Cybersecurity Awareness): Kesadaran masyarakat akan pentingnya melindungi data pribadi agar tidak menjadi korban kejahatan siber yang kian marak.
Tanpa penguatan pada ketiga pilar tersebut, infrastruktur digital yang mahal akan menjadi sia-sia. Masyarakat akan tetap berada di pinggiran ekonomi digital, sementara nilai ekonomi terbesar justru dinikmati oleh platform-platform asing yang masuk ke pasar Indonesia.
Mengatasi Kesenjangan Digital di Daerah Terpencil
Selain masalah literasi, tantangan geografis Indonesia tetap menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Angga Raka menyadari bahwa pemberdayaan tidak akan merata jika akses di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) masih timpang. Namun, ia menegaskan bahwa pendekatan untuk wilayah 3T tidak bisa disamakan dengan kota besar.
Di wilayah perkotaan, pemberdayaan mungkin lebih diarahkan pada pengembangan talenta digital tingkat lanjut (high-end digital talent) seperti pengembang perangkat lunak atau ahli kecerdasan buatan (AI). Namun, di wilayah pedesaan, fokus pemberdayaan harus menyentuh sektor-sektor riil yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat setempat.
Pemberdayaan Ekonomi Melalui Digitalisasi UMKM
Salah satu sektor yang menjadi fokus utama dalam visi pemberdayaan digital ini adalah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Sebagai tulang punggung ekonomi nasional, UMKM memiliki potensi besar untuk naik kelas melalui digitalisasi. Namun, proses ini tidak boleh sekadar "memindahkan toko fisik ke toko online".
Angga Raka menjelaskan bahwa pemberdayaan UMKM digital mencakup integrasi ke dalam rantai pasok global, penggunaan data untuk pengambilan keputusan bisnis, hingga kemudahan akses pembiayaan melalui teknologi finansial (fintech). Pemerintah, melalui Kementerian Komdigi, berkomitmen untuk menyediakan ekosistem yang mendukung pelaku usaha kecil agar mampu bersaing dengan produk impor.
"Kita ingin pedagang pasar, petani di desa, hingga pengrajin di pelosok bisa mengakses pasar yang lebih luas. Digitalisasi harus membuat mereka lebih efisien, bukan justru membuat mereka terbebani dengan kerumitan teknologi," tambahnya.
Dengan digitalisasi yang tepat sasaran, diharapkan terjadi pemerataan ekonomi. Keuntungan ekonomi digital tidak lagi terkonsentrasi di Jakarta atau kota-kota besar saja, tetapi juga mengalir ke daerah-daerah melalui pemberdayaan komunitas lokal yang berbasis teknologi.
Strategi Kementerian Komunikasi dan Digital ke Depan