DWJ Manajement - PORTAL

Warga RI Doyan Pakai Paylater, Ini Buktinya

Oleh: DWJ-Manajement 04 Aug 2026
Warga RI Doyan Pakai Paylater, Ini Buktinya

Secara psikologis, paylater menawarkan mekanisme yang disebut sebagai "penundaan rasa sakit" (delayed pain). Saat seseorang berbelanja secara tunai, mereka langsung merasakan kehilangan uang secara fisik atau saldo. Namun, dengan paylater, kepuasan mendapatkan barang dirasakan secara instan, sementara beban finansialnya baru dirasakan di kemudian hari. Efek psikologis ini sangat kuat dalam mendorong perilaku konsumtif.

Selain faktor psikologis, alasan ekonomi yang lebih pragmatis juga berperan. Bagi sebagian kalangan, paylater digunakan sebagai alat manajemen arus kas (cash flow management). Misalnya, seseorang mungkin menggunakan paylater untuk membeli barang kebutuhan rumah tangga saat uang tunai sedang dialokasikan untuk biaya pendidikan atau tagihan lainnya, dengan rencana untuk melunasinya saat gaji berikutnya cair.

Pedang Bermata Dua: Manfaat vs Risiko Jeratan Utang

Meskipun menawarkan fleksibilitas, penggunaan paylater layaknya pedang bermata dua. Jika digunakan dengan bijak, layanan ini bisa menjadi alat bantu finansial yang sangat berguna. Namun, jika digunakan tanpa kendali, ia bisa menjadi pintu masuk menuju krisis finansial pribadi yang serius.

Potensi Bahaya Konsumerisme Berlebihan

Masalah utama dari maraknya paylater adalah garis tipis antara "kebutuhan" dan "keinginan". Kemudahan akses seringkali memicu perilaku impulsive buying atau belanja impulsif. Banyak pengguna yang akhirnya membeli barang-barang yang sebenarnya tidak mereka butuhkan hanya karena merasa "mampu mencicilnya".

Beberapa risiko nyata yang mengintai pengguna paylater meliputi:

Bunga dan Biaya Tersembunyi: Meskipun terlihat murah, akumulasi bunga dari cicilan dan biaya administrasi bulanan bisa menjadi sangat besar jika tidak diperhatikan dengan teliti.

Denda Keterlambatan: Sistem paylater sangat ketat terhadap ketepatan waktu. Keterlambatan satu hari saja dapat memicu denda yang cukup tinggi, yang jika terus menumpuk, akan memperburuk kondisi keuangan.

Skor Kredit yang Buruk: Layanan paylater yang legal sudah terintegrasi dengan sistem informasi debitur. Kegagalan dalam membayar cicilan akan tercatat dalam sistem informasi keuangan (seperti SLIK OJK), yang dapat menyulitkan pengguna saat ingin mengajukan pinjaman besar seperti KPR atau kredit kendaraan di masa depan.

Efek Bola Salju Utang: Menggunakan satu layanan paylater untuk menutupi kebutuhan lain, atau menggunakan banyak aplikasi paylater secara bersamaan, dapat menciptakan lingkaran setan utang yang sulit diputus.

Membangun Literasi Keuangan di Era Digital