DWJ Manajement - PORTAL

Zulhas Buka-Bukaan Biaya Produksi Beras RI Jauh Lebih Mahal dari Thailand

Oleh: DWJ-Manajement • 05 Sep 2026
Zulhas Buka-Bukaan Biaya Produksi Beras RI Jauh Lebih Mahal dari Thailand

Menanggapi temuan ini, diperlukan langkah-langkah konkret agar biaya produksi beras nasional dapat ditekan. Pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan impor sebagai solusi jangka pendek untuk menjaga stabilitas harga. Transformasi sektor pertanian harus menjadi agenda prioritas nasional.

Beberapa langkah yang perlu diambil antara lain:

Modernisasi Pertanian (Smart Farming): Mendorong penggunaan alat mesin pertanian (alsintan) secara masif guna mengurangi biaya tenaga kerja dan meningkatkan presisi hasil panen.

Reformasi Distribusi Pupuk: Memastikan pupuk bersubsidi sampai ke tangan petani dengan tepat waktu dan tepat sasaran untuk menekan biaya input.

Penguatan Riset dan Pengembangan: Meningkatkan investasi pada pengembangan varietas benih yang tahan hama dan memiliki produktivitas tinggi namun dengan biaya perawatan yang rendah.

Konsolidasi Lahan: Mendorong model korporasi petani atau penggabungan lahan-lahan kecil agar pengelolaan pertanian bisa dilakukan secara profesional dan berskala ekonomi.

Jika langkah-langkah ini tidak segera dilakukan secara serius, Indonesia akan terus berada dalam posisi rentan. Ketahanan pangan bukan hanya soal ketersediaan stok beras di gudang Bulog, melainkan soal kemampuan bangsa ini untuk memproduksi pangan secara mandiri, efisien, dan berkelanjutan tanpa harus terus-menerus bergantung pada kebijakan pasar global.

Kesimpulan

Pernyataan Zulhas mengenai tingginya biaya produksi beras di Indonesia, khususnya di Lampung yang mencapai Rp 12.000 per kilogram, merupakan peringatan keras bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan. Kesenjangan efisiensi dengan negara seperti Thailand membuktikan bahwa Indonesia masih tertinggal dalam hal modernisasi dan manajemen biaya pertanian.

Ketergantungan pada impor bukan hanya solusi jangka pendek untuk menekan harga, tetapi juga menjadi penghambat bagi petani kita untuk berkembang dan "terlatih" dalam efisiensi global. Untuk memutus rantai ini, diperlukan transformasi menyeluruh dari hulu ke hilir, mulai dari mekanisasi, perbaikan infrastruktur, hingga perbaikan rantai pasok, demi mewujudkan kedaulatan pangan yang sesungguhnya.