DWJ Manajement - PORTAL

Zulhas: Kita akan Menghabisi Secara Bertahap Gunung-gunung Sampah

Oleh: DWJ-Manajement 26 Aug 2026
Zulhas: Kita akan Menghabisi Secara Bertahap Gunung-gunung Sampah

Peningkatan Nilai Ekonomi: Mengubah limbah yang sebelumnya tidak bernilai menjadi komoditas energi yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Prioritas Wilayah Darurat: Bekasi, Bali, dan Bandung

Pemerintah tidak akan melakukan pendekatan secara serentak di seluruh wilayah, mengingat kompleksitas teknologi dan infrastruktur yang dibutuhkan. Sebagai langkah awal, Zulhas menyatakan bahwa fokus utama akan diarahkan pada wilayah-wilayah yang saat ini berada dalam status darurat sampah. Tiga wilayah yang menjadi prioritas utama adalah Bekasi, Bali, dan Bandung.

1. Bekasi: Mengatasi Beban Bantar Gebang

Bekasi, khususnya wilayah Bantar Gebang, telah lama menjadi simbol krisis sampah di Indonesia. Sebagai TPA utama yang melayani kawasan megapolitan Jakarta, Bekasi menghadapi tekanan volume sampah yang luar biasa setiap harinya. Upaya untuk mengolah sampah di Bekasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan demi mencegah ledakan sampah yang dapat melumpuhkan sistem sanitasi ibu kota.

2. Bali: Menjaga Citra Pariwisata Dunia

Bagi Bali, masalah sampah bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga ancaman langsung terhadap sektor pariwisata yang menjadi tulang punggung ekonomi pulau tersebut. Sampah yang tidak terkelola dengan baik di pesisir maupun di daratan dapat merusak citra Bali sebagai destinasi wisata kelas dunia. Oleh karena itu, implementasi teknologi pengolahan sampah di Bali akan sangat berdampak pada keberlanjutan ekonomi berbasis pariwisata.

3. Bandung: Menangani Krisis di Kawasan Padat Penduduk

Kota Bandung dan sekitarnya juga kerap menghadapi krisis serupa, di mana TPA sering kali mengalami kelebihan kapasitas (overcapacity). Dengan kepadatan penduduk yang tinggi, pengelolaan sampah secara konvensional sudah tidak mampu lagi mengimbangi laju produksi limbah harian. Fokus pada Bandung diharapkan dapat memberikan model percontohan bagi kota-kota besar lainnya di Jawa Barat.

Tantangan dalam Implementasi Teknologi PLTSa

Meskikpun konsep ini terdengar sangat ideal, pemerintah menyadari bahwa implementasinya di lapangan tidaklah mudah. Ada beberapa tantangan besar yang harus dihadapi agar ambisi "menghabisi gunung sampah" ini dapat terealisasi dengan sukses.

Pertama adalah masalah investasi dan pendanaan. Teknologi Waste-to-Energy membutuhkan biaya kapital yang sangat besar untuk pembangunan infrastruktur dan pengadaan teknologi mesin yang mumpuni. Diperlukan skema kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU) yang menarik agar sektor swasta bersedia terlibat dalam proyek jangka panjang ini.

Kedua, masalah pemilahan sampah dari hulu. Teknologi pengolahan sampah akan bekerja jauh lebih efisien jika sampah yang masuk ke fasilitas pengolahan sudah terpilah antara sampah organik dan anorganik. Tanpa edukasi masyarakat yang masif mengenai pemilahan sampah di tingkat rumah tangga, efisiensi mesin pengolah sampah akan menurun dan biaya operasional akan membengkak.