DWJ Manajement - PORTAL

Adik Prabowo Mau Sulap CO2 Jadi Aset Bernilai Tinggi

Oleh: DWJ-Manajement 26 Aug 2026
Adik Prabowo Mau Sulap CO2 Jadi Aset Bernilai Tinggi

Industri Kimia dan Plastik: Karbon dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan polimer, plastik ramah lingkungan, hingga bahan kimia dasar untuk berbagai industri manufaktur.

Pupuk dan Pertanian: Dalam skala tertentu, konsentrasi CO2 yang terkendali dapat digunakan dalam rumah kaca (greenhouse) untuk mempercepat pertumbuhan tanaman secara signifikan.

Produksi Makanan: Beberapa teknologi terbaru bahkan mampu mengubah CO2 menjadi protein mikroba yang bisa menjadi alternatif pakan ternak atau bahan makanan masa depan.

Mendukung Target Net Zero Emission 2060 Indonesia

Pemerintah Indonesia telah menetapkan target ambisius untuk mencapai Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060 atau lebih cepat. Target ini bukan sekadar janji di atas kertas, melainkan prasyarat agar produk-produk Indonesia tetap kompetitif di pasar global yang semakin menuntut standar keberlanjutan tinggi (seperti regulasi CBAM dari Uni Eropa).

Visi untuk menyulap CO2 menjadi aset ini sejalan dengan peta jalan transisi energi nasional. Dengan mengintegrasikan teknologi penangkapan karbon ke dalam sektor industri strategis, Indonesia tidak hanya akan memenuhi kewajiban iklimnya, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi baru yang mandiri.

Hashim Djojohadikusumo melihat bahwa Indonesia memiliki posisi tawar yang sangat kuat. Sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemain utama dalam rantai pasok global ekonomi hijau. Jika Indonesia mampu menguasai teknologi dan infrastruktur CCUS, kita tidak hanya akan menjadi konsumen teknologi, tetapi juga eksportir solusi karbon dunia.

Tantangan Besar di Depan Mata

Tentu saja, mengubah polusi menjadi aset bukanlah perkara mudah. Ada beberapa hambatan signifikan yang harus diatasi oleh pemerintah maupun sektor swasta agar visi ini dapat terealisasi secara masif:

1. Biaya Investasi Teknologi yang Tinggi

Pembangunan infrastruktur penangkapan dan pemanfaatan karbon membutuhkan modal yang sangat besar di awal. Teknologi ini masih tergolong mahal jika dibandingkan dengan metode konvensional. Diperlukan skema pembiayaan kreatif, seperti green bonds atau insentif fiskal dari pemerintah, untuk menarik minat investor.

2. Ketersediaan Infrastruktur Logistik