DWJ Manajement - PORTAL

Asing Kompak Serok 10 Saham Ini Kala IHSG Anjlok 1,51%

Oleh: DWJ-Manajement • 29 Sep 2026
Asing Kompak Serok 10 Saham Ini Kala IHSG Anjlok 1,51%

Sektor Perbankan (Big Caps): Investor asing kembali melirik saham-saham perbankan besar yang secara historis menjadi tulang punggung IHSG. Penurunan harga pada saham perbankan sering kali dianggap sebagai peluang emas untuk masuk sebelum siklus ekonomi baru dimulai.

Sektor Konsumer (Consumer Goods): Saham-saham di sektor barang konsumsi tetap menjadi primadona karena sifatnya yang defensif. Saat pasar bergejolak, investor cenderung mengalihkan dana ke sektor yang produknya tetap dibutuhkan masyarakat dalam kondisi ekonomi apa pun.

Sektor Telekomunikasi: Sebagai penyedia infrastruktur digital, saham telekomunikasi menunjukkan daya tarik tinggi karena aliran pendapatan yang stabil dan pertumbuhan basis pengguna data yang konsisten.

Sektor Energi dan Komoditas: Di tengah ketidakpastian geopolitik, beberapa saham energi yang memiliki fundamental kuat tetap menjadi incaran karena potensi yield dan harga komoditas yang masih terjaga.

Strategi akumulasi pada 10 saham ini menunjukkan bahwa investor asing sedang melakukan rebalancing portfolio. Mereka melepas saham-saham yang memiliki risiko tinggi (high beta) dan memindahkan likuiditas mereka ke saham-saham dengan risiko yang lebih terukur namun memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang yang jelas.

Penyebab Utama Penurunan IHSG

Anjloknya IHSG sebesar 1,51 persen tidak terjadi tanpa alasan. Analis pasar modal mencatat setidaknya ada tiga faktor utama yang menjadi katalis negatif pada perdagangan 28 September 2026 ini:

Pertama, adanya ketidakpastian kebijakan moneter dari bank sentral global, terutama Amerika Serikat. Ekspektasi mengenai arah suku bunga yang tetap tinggi (higher for longer) memicu aliran modal keluar dari pasar negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia, menuju aset yang dianggap lebih aman seperti US Treasury.

Kedua, sentimen geopolitik di beberapa kawasan penting dunia yang kembali memanas. Konflik yang belum terselesaikan menciptakan ketidakpastian pada rantai pasok global, yang secara langsung berdampak pada persepsi risiko investor terhadap aset-aset di pasar modal Asia.

Ketiga, tekanan aksi ambil untung (profit taking) oleh investor domestik dan asing setelah kenaikan yang cukup signifikan pada bulan-bulan sebelumnya. Koreksi ini dianggap sebagai hal yang wajar dalam siklus pasar untuk menjaga kesehatan indeks dari kondisi overbought.