Stabilitas Kebijakan Fiskal: Komitmen pemerintah dalam menjaga defisit anggaran dan disiplin fiskal memberikan rasa aman bagi investor jangka panjang.
Pertumbuhan Ekonomi yang Resilien: Di tengah perlambatan ekonomi beberapa negara mitra dagang, Indonesia tetap mampu mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang stabil dan kompetitif.
Sinergi Kebijakan Moneter dan Fiskal: Koordinasi yang erat antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia dalam mengelola inflasi serta nilai tukar menciptakan iklim investasi yang kondusif.
Daya Tarik Pasar Surat Utang (SBN): Yield atau imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) yang kompetitif dibandingkan dengan risiko yang ada menjadi daya tarik utama bagi investor asing.
Mengapa Sempat Terjadi Capital Outflow?
Untuk memahami signifikansi angka Rp 140,7 triliun ini, kita perlu menengok kembali kondisi sebelumnya. Pada periode tertentu, Indonesia memang sempat mengalami tekanan berupa keluarnya modal asing. Fenomena ini biasanya dipicu oleh beberapa faktor eksternal yang berada di luar kendali domestik.
Salah satu pemicu utamanya adalah kebijakan moneter ketat dari bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed). Ketika suku bunga di Amerika Serikat naik secara agresif, investor cenderung memindahkan modal mereka dari negara berkembang (emerging markets) kembali ke Amerika Serikat demi mengejar imbal hasil yang lebih tinggi dengan risiko yang lebih rendah. Hal ini sering disebut sebagai fenomena taper tantrum atau pengetatan likuiditas global.
Selain faktor suku bunga, ketegangan geopolitik di berbagai belahan dunia, seperti konflik di Timur Tengah dan ketidakpastian hubungan dagang antara kekuatan ekonomi besar, juga sempat memicu sikap risk-off di kalangan investor. Dalam kondisi tersebut, investor cenderung menghindari aset berisiko tinggi di negara berkembang dan beralih ke aset safe haven seperti emas atau dolar AS.
Namun, kembalinya modal sebesar Rp 140,7 triliun membuktikan bahwa risiko-risiko tersebut telah berhasil dimitigasi atau setidaknya dianggap telah terukur oleh para investor global saat ini.