DWJ Manajement - PORTAL

Asing Terciduk Diam-Diam Borong 10 Saham Ini Kala IHSG Merah

Oleh: DWJ-Manajement 28 Jul 2026
Asing Terciduk Diam-Diam Borong 10 Saham Ini Kala IHSG Merah

IHSG Merah Akibat Perry Warjiyo Mundur, Investor Asing Justru Diam-Diam Borong 10 Saham Ini!

Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau mengalami tekanan di tengah gejolak sentimen makroekonomi nasional. Pergerakan pasar modal Indonesia kembali diwarnai warna merah, menyusul kabar mengejutkan terkait perubahan pucuk pimpinan di Bank Indonesia (BI).

Berdasarkan data perdagangan terbaru, IHSG mencatatkan koreksi tipis sebesar 0,17%. Meskipun terlihat seperti penurunan yang wajar, namun tekanan jual yang datang dari investor asing memberikan sinyal kewaspadaan bagi para pelaku pasar. Investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) dengan nilai yang cukup fantastis, mencapai Rp820,67 miliar.

Namun, di balik arus keluar modal asing yang masif tersebut, terselip sebuah anomali yang menarik perhatian para analis pasar modal. Di saat mayoritas saham tertekan, sejumlah investor asing justru terlihat melakukan strategi "diam-diam" dengan mengumpulkan atau mengakumulasi sejumlah saham unggulan secara bertahap.

Dampak Pengunduran Diri Perry Warjiyo Terhadap Stabilitas Pasar

Penyebab utama dari volatilitas pasar hari ini adalah pengumuman pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo. Langkah ini dianggap sebagai kejutan besar oleh pelaku pasar, mengingat posisi Gubernur BI merupakan salah satu pilar stabilitas moneter di Indonesia.

Ketidakpastian mengenai siapa yang akan menggantikan posisi tersebut menciptakan kekhawatiran mengenai arah kebijakan suku bunga dan stabilitas nilai tukar Rupiah ke depannya. Pasar cenderung bereaksi negatif terhadap ketidakpastian (uncertainty), yang kemudian memicu aksi ambil untung (profit taking) oleh investor asing untuk mengamankan posisi mereka.

Sentimen negatif ini tidak hanya menghantam sektor perbankan, tetapi juga merembet ke sektor-sektor sensitif lainnya. Investor asing tampak melakukan realokasi aset, memindahkan dana mereka keluar dari pasar saham Indonesia menuju instrumen yang dianggap lebih aman atau ke pasar negara berkembang lainnya yang dianggap memiliki kepastian politik lebih tinggi.

Anomali Pasar: Strategi 'Buy on Weakness' oleh Investor Asing

Meskipun data menunjukkan net sell sebesar Rp820,67 miliar, jika kita membedah lebih dalam pada data pergerakan saham secara individual, terdapat pola yang sangat menarik. Strategi "Buy on Weakness" atau membeli saat harga sedang terkoreksi tampaknya sedang dijalankan oleh sebagian kelompok investor asing.

Alih-alih keluar sepenuhnya dari pasar Indonesia, sebagian investor asing justru memanfaatkan momentum penurunan IHSG ini untuk melakukan akumulasi pada saham-saham berkapitalisasi besar (blue chip). Mereka cenderung mengincar saham dengan fundamental kuat yang harganya dianggap sudah cukup murah akibat koreksi pasar secara keseluruhan.

Langkah ini sering kali dilakukan oleh investor institusi besar yang memiliki horison investasi jangka panjang. Mereka melihat bahwa penurunan IHSG saat ini lebih bersifat teknikal dan dipicu oleh sentimen jangka pendek, bukan karena kerusakan fundamental ekonomi nasional secara permanen.

Daftar 10 Saham yang Menjadi Incaran Akumulasi Asing

Berdasarkan pantauan data transaksi pasar, berikut adalah daftar saham yang menunjukkan adanya indikasi akumulasi atau pembelian yang cukup signifikan oleh investor asing di tengah tren merah IHSG:

BBCA (PT Bank Central Asia Tbk): Menjadi primadona utama. BBCA tetap menjadi pilihan favorit karena dianggap sebagai saham paling defensif dan memiliki manajemen risiko terbaik.

BBRI (PT Bank Rakyat Indonesia Tbk): Meski sektor perbankan bergejolak, BBRI tetap diborong karena dividen yield yang menarik.

BMRI (PT Bank Mandiri Tbk): Perbankan plat merah ini masih menjadi target akumulasi untuk jangka menengah.

BBNI (PT Bank Negara Indonesia Tbk): Terpantau ada aliran dana masuk yang mencoba menahan laju penurunan saham ini.

TLKM (PT Telkom Indonesia Tbk): Sektor telekomunikasi menjadi pelarian aman bagi investor yang mencari stabilitas.

ASII (PT Astra International Tbk): Konglomerasi ini mulai dilirik kembali seiring dengan ekspektasi pemulihan daya beli.

UNTR (PT United Tractors Tbk): Saham terkait komoditas ini tetap diminati karena fundamental arus kas yang kuat.

ICBP (PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk): Saham konsumer defensif ini menjadi pilihan saat pasar sedang volatil.

AMRT (PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk): Sektor ritel kebutuhan pokok tetap menunjukkan daya tarik bagi investor asing.

INDF (PT Indofood Sukses Makmur Tbk): Melengkapi sektor konsumer, INDF menjadi target akumulasi karena valuasi yang masih menarik.

Mengapa BBCA Tetap Menjadi Saham Terfavorit?

Di tengah badai ketidakpastian kebijakan moneter, BBCA atau Bank Central Asia tetap berdiri tegak sebagai saham favorit. Mengapa demikian? Ada beberapa alasan fundamental mengapa investor asing tetap "setia" pada saham ini meskipun IHSG sedang memerah.

Pertama, BBCA memiliki tingkat kepercayaan investor yang sangat tinggi berkat manajemen yang sangat konservatif dan prudent. Dalam situasi ketidakpastian tinggi, investor cenderung mencari "safe haven" di dalam bursa lokal, dan BBCA adalah representasi terbaik dari stabilitas tersebut.

Kedua, rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) yang sangat rendah menjadikan BBCA memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap guncangan ekonomi. Ketiga, likuiditas saham BBCA yang sangat besar memudahkan investor asing untuk masuk dan keluar dalam jumlah besar tanpa menyebabkan pergeseran harga yang terlalu ekstrem secara instan.

Strategi Menghadapi Volatilitas Pasar bagi Investor Ritel

Bagi Anda investor ritel, menghadapi situasi di mana IHSG sedang merah dan terjadi pengunduran diri pejabat penting memerlukan ketenangan. Berikut adalah beberapa tips yang bisa dipertimbangkan:

Jangan Panik (Panic Selling): Perhatikan apakah penurunan terjadi karena fundamental perusahaan yang memburuk atau sekadar sentimen makro. Jika fundamental tetap baik, jangan terburu-buru menjual di harga bawah.

Amati Arus Kas Asing: Meskipun terjadi net sell secara total, perhatikan saham mana yang justru mengalami net buy. Saham-saham yang diborong asing di saat pasar merah biasanya memiliki peluang rebound yang kuat.

Diversifikasi Portofolio: Jangan menempatkan seluruh modal pada satu sektor saja. Memiliki campuran saham perbankan, konsumer, dan telekomunikasi dapat membantu meminimalisir risiko.

Gunakan Strategi Averaging: Jika Anda memiliki dana menganggur, melakukan pembelian secara bertahap (averaging down) pada saham blue chip yang sedang terkoreksi bisa menjadi strategi yang efektif.

Kesimpulan

Penurunan IHSG sebesar 0,17% yang dipicu oleh pengunduran diri Gubernur BI Perry Warjiyo memang menciptakan tekanan jual besar-besaran dari investor asing dengan nilai mencapai Rp820,67 miliar. Namun, fenomena ini juga mengungkap adanya strategi akumulasi tersembunyi. Sebagian investor asing justru memanfaatkan momentum ini untuk "mencuri start" dengan membeli saham-saham blue chip unggulan, terutama BBCA, yang dianggap memiliki fundamental paling kokoh.

Pasar saat ini sedang berada dalam fase transisi dan menunggu kepastian kepemimpinan baru di Bank Indonesia. Bagi investor, fokus pada saham-saham dengan fundamental kuat dan perhatikan pergerakan akumulasi asing dapat menjadi kunci untuk tetap bertahan dan meraih keuntungan saat pasar kembali menghijau.

Menampilkan Seluruh Artikel