Bamsoet: Penguatan Sektor Properti Harus Jadi Bagian Strategi Nasional demi Ketahanan Ekonomi
JAKARTA - Sektor properti kini semakin dipandang sebagai elemen krusial dalam menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Bambang Soesatyo (Bamsoet) menegaskan bahwa penguatan sektor properti tidak boleh hanya dipandang sebagai sektor pendukung, melainkan harus diintegrasikan ke dalam strategi ekonomi nasional guna memperkokoh ketahanan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.
Menurut Bamsoet, sektor real estat dan konstruksi memiliki karakteristik unik yang mampu memberikan dampak pengganda (multiplier effect) yang sangat luas. Ketika sektor ini bergerak, ia tidak hanya menggerakkan industri pembangunan, tetapi juga menyentuh berbagai lini industri lainnya, mulai dari manufaktur bahan bangunan hingga sektor jasa keuangan.
Properti sebagai Pilar Ketahanan Ekonomi
Dalam keterangannya, Bamsoet menyoroti bahwa di tengah dinamika ekonomi dunia yang penuh dengan ketidakpastian—seperti fluktuasi harga komoditas, tensi geopolitik, hingga perubahan kebijakan moneter global—Indonesia membutuhkan motor penggerak domestik yang kuat. Sektor properti dinilai sebagai salah satu mesin utama yang dapat menjaga konsumsi rumah tangga dan investasi tetap stabil.
Ia menekankan bahwa properti bukan sekadar tentang pembangunan gedung atau perumahan, melainkan tentang penciptaan nilai tambah ekonomi yang sistemik. "Sektor properti adalah pilar ketahanan ekonomi. Pertumbuhan di sektor ini akan memberikan sinyal positif bagi kepercayaan investor, baik domestik maupun mancanegara," ungkapnya.
Ada beberapa alasan fundamental mengapa properti menjadi instrumen penting dalam strategi nasional:
Efek Pengganda (Multiplier Effect) yang Tinggi: Setiap rupiah yang diinvestasikan dalam pembangunan properti akan mengalir ke berbagai sektor lain seperti industri semen, baja, kaca, hingga furnitur.
Penyerapan Tenaga Kerja Massal: Dari buruh konstruksi hingga arsitek, manajer proyek, hingga agen pemasaran, sektor ini mampu menyerap jutaan tenaga kerja secara langsung maupun tidak langsung.