DWJ Manajement - PORTAL

Bank Permata Kehilangan Dana Murah, Cost of Fund Berpotensi Naik

Oleh: DWJ-Manajement 31 Jul 2026
Bank Permata Kehilangan Dana Murah, Cost of Fund Berpotensi Naik

Struktur Pendanaan Berubah, Bank Permata (BNLI) Terancam Lonjakan Cost of Fund

JAKARTA - PT Bank Permata Tbk (BNLI) tengah menghadapi tantangan signifikan dalam pengelolaan struktur pendanaannya. Berdasarkan laporan kinerja terbaru untuk periode semester I-2026, bank yang terafiliasi dengan Bangkok Bank ini mengalami pergeseran komposisi dana yang cukup drastis, di mana terjadi penurunan pada sektor dana murah (CASA) dan peningkatan pada instrumen deposito.

Perubahan struktur ini menjadi perhatian serius bagi para pelaku pasar dan analis keuangan, mengingat penurunan porsi dana murah berpotensi langsung menekan profitabilitas bank melalui kenaikan Cost of Fund (CoF) atau biaya dana. Jika tidak segera dimitigasi, kenaikan biaya dana ini dapat menggerus Net Interest Margin (NIM) yang selama ini menjadi motor utama pendapatan bunga bersih bank.

Pergeseran Komposisi: Menipisnya Dana Murah (CASA)

Dalam dunia perbankan, Current Account Savings Account (CASA) atau yang lebih dikenal dengan dana murah (Giro dan Tabungan) adalah komponen vital. Dana ini dianggap "murah" karena bank hanya perlu memberikan bunga yang sangat rendah kepada nasabah dibandingkan dengan instrumen deposito berjangka.

Data menunjukkan bahwa pada semester I-2026, BNLI mengalami kontraksi pada porsi CASA. Penurunan ini mengindikasikan adanya aliran dana keluar dari rekening giro dan tabungan nasabah, atau adanya pergeseran preferensi nasabah yang lebih memilih memindahkan aset mereka ke instrumen yang memberikan imbal hasil lebih tinggi.

Beberapa faktor yang diduga menjadi penyebab penipisan dana murah ini antara lain:

Persaingan Suku Bunga: Meningkatnya penawaran suku bunga menarik dari bank lain, terutama bank digital yang sangat agresif dalam mengejar likuiditas.

Pergeseran Instrumen Investasi: Nasabah cenderung memindahkan dana likuid mereka ke instrumen pasar uang atau surat berharga negara (SBN) yang menawarkan yield lebih kompetitif di tengah kondisi ekonomi saat ini.

Manajemen Likuiditas Nasabah Korporasi: Adanya penarikan dana dalam skala besar oleh nasabah korporat untuk keperluan ekspansi atau manajemen arus kas internal.

Ketergantungan pada Deposito Berbiaya Tinggi

Sebagai konsekuensi dari menurunnya dana murah, Bank Permata harus mencari sumber likuiditas alternatif untuk menjaga rasio kecukupan dana guna mendukung penyaluran kredit. Pilihan utama yang diambil adalah melalui peningkatan porsi deposito berjangka.

Masalahnya, deposito adalah instrumen pendanaan yang "mahal". Untuk menarik nasabah agar bersedia mengunci dananya dalam jangka waktu tertentu, bank harus menawarkan suku bunga yang relatif tinggi. Peningkatan volume deposito ini secara otomatis akan mendongkrak beban bunga yang harus dibayarkan oleh bank setiap bulannya.

Kenaikan beban bunga inilah yang kemudian memicu kekhawatiran akan melonjaknya Cost of Fund (CoF). CoF adalah indikator penting yang menunjukkan seberapa besar biaya yang dikeluarkan bank untuk menghimpun dana. Semakin tinggi CoF, semakin besar tekanan yang dirasakan bank dalam menjaga margin keuntungan.

Dampak Terhadap Net Interest Margin (NIM) dan Profitabilitas

Korelasi antara kenaikan Cost of Fund dan Net Interest Margin (NIM) sangatlah erat. NIM adalah selisih antara pendapatan bunga yang diperoleh bank dari penyaluran kredit dengan beban bunga yang dibayarkan kepada penyimpan dana.

Ketika BNLI harus membayar bunga deposito yang lebih tinggi, maka biaya operasional di sisi bunga akan naik. Jika bank tidak mampu menaikkan suku bunga kreditnya (karena mempertimbangkan kemampuan bayar debitur dan kondisi ekonomi makro), maka selisih atau margin tersebut akan mengecil. Kompresi margin inilah yang menjadi ancaman nyata bagi laba bersih perusahaan.

Analis menilai, BNLI harus berada dalam posisi yang sangat presisi: menyeimbangkan antara kebutuhan likuiditas yang tinggi dengan upaya menjaga biaya dana tetap terkendali. Jika bank terlalu agresif mengejar pertumbuhan kredit tanpa didukung dana murah yang kuat, maka risiko penurunan kualitas aset dan penurunan laba akan meningkat secara simultan.

Tantangan Strategis di Tengah Kompetisi Perbankan

Kondisi yang dialami Bank Permata bukanlah fenomena tunggal, melainkan cerminan dari dinamika industri perbankan nasional yang kian kompetitif. Saat ini, perbankan tidak hanya bertarung dengan sesama bank konvensional, tetapi juga dengan ekosistem teknologi finansial (fintech) dan bank digital.

Beberapa tantangan strategis yang harus dihadapi BNLI ke depan meliputi:

Digitalisasi Layanan: Memperkuat ekosistem digital untuk meningkatkan retensi nasabah agar tetap menyimpan dana di rekening tabungan/giro sebagai bagian dari gaya hidup transaksi harian.

Optimasi Cross-Selling: Menggunakan data nasabah untuk menawarkan produk yang lebih relevan, sehingga nasabah tidak hanya sekadar menabung, tetapi juga menggunakan layanan perbankan secara menyeluruh.

Manajemen Likuiditas yang Agresif: Melakukan manajemen aset dan liabilitas (ALM) yang lebih ketat guna memitigasi risiko fluktuasi suku bunga di pasar.

Efisiensi Operasional: Menekan biaya operasional lainnya guna mengompensasi potensi penurunan margin bunga bersih.

Keberhasilan BNLI dalam mengelola transisi struktur pendanaan ini akan sangat bergantung pada seberapa efektif mereka melakukan penetrasi ke segmen ritel yang memiliki karakteristik dana murah lebih stabil, serta seberapa canggih teknologi mereka dalam mempertahankan loyalitas nasabah di tengah godaan suku bunga tinggi dari kompetitor.

Kesimpulan

Perubahan struktur pendanaan Bank Permata (BNLI) pada semester I-2026, yang ditandai dengan penurunan dana murah (CASA) dan peningkatan deposito, merupakan sinyal waspada bagi efisiensi biaya bank. Kenaikan Cost of Fund (CoF) menjadi risiko utama yang dapat menekan Net Interest Margin (NIM) dan pada akhirnya berdampak pada profitabilitas perusahaan. Langkah mitigasi melalui penguatan layanan digital, strategi retensi nasabah, dan manajemen likuiditas yang lebih cerdas menjadi kunci bagi BNLI untuk tetap menjaga performa keuangan yang sehat di tengah persaingan industri perbankan yang kian ketat.

Menampilkan Seluruh Artikel