Kepastian Imbal Hasil (Yield): Suku bunga SBN seringkali cukup kompetitif dan memberikan kepastian arus kas bagi bank.
Efisiensi Operasional: Menyalurkan kredit membutuhkan proses analisis yang panjang, administrasi yang rumit, hingga pemantauan debitur secara berkelanjutan, sedangkan investasi di SBN jauh lebih praktis.
Kekhawatiran NPL: Adanya ketidakpastian ekonomi global membuat bank cenderung lebih berhati-hati (risk-averse) dalam memberikan pinjaman kepada korporasi maupun individu.
Dampak "Parkir Dana" terhadap Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Jika perbankan terlalu dominan menempatkan dana di SBN, dampak domino negatif dapat dirasakan oleh seluruh lapisan ekonomi. Kredit adalah darah bagi perekonomian. Tanpa aliran kredit yang lancar, dunia usaha tidak dapat melakukan ekspansi, inovasi, maupun rekrutmen tenaga kerja baru.
Ketika sektor riil kekurangan modal, laju produksi akan melambat, yang pada akhirnya akan menekan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB). Selain itu, rendahnya penyaluran kredit juga berdampak pada daya beli masyarakat, karena sektor UMKM yang merupakan tulang punggung ekonomi Indonesia sangat bergantung pada akses pembiayaan perbankan.
BI menekankan bahwa peran perbankan bukan sekadar sebagai lembaga intermediasi yang mencari keuntungan dari selisih bunga (spread), tetapi juga sebagai katalisator pembangunan ekonomi. Menumpuk dana di instrumen pemerintah memang menguntungkan neraca bank secara jangka pendek, namun secara jangka panjang, kesehatan ekonomi negara bergantung pada produktivitas sektor riil.
Sektor-Sektor Strategis yang Membutuhkan Stimulus Kredit
Bank Indonesia mendorong perbankan untuk mengarahkan kreditnya pada sektor-sektor yang memiliki multiplier effect (efek pengganda) tinggi terhadap ekonomi, di antaranya:
Sektor Manufaktur: Untuk memperkuat struktur industri dalam negeri dan mengurangi ketergantungan impor.
Sektor UMKM: Sebagai penyedia lapangan kerja terbesar dan penggerak ekonomi akar rumput.