DWJ Manajement - PORTAL

Biaya Produksi Beras RI Rp 12.000/Kg, Thailand Cuma Rp 3.800/Kg

Oleh: DWJ-Manajement 06 Sep 2026
Biaya Produksi Beras RI Rp 12.000/Kg, Thailand Cuma Rp 3.800/Kg

Ironi Negara Agraris: Biaya Produksi Beras RI Rp 12.000/Kg, Thailand Hanya Rp 3.800/Kg

Ketimpangan efisiensi produksi pangan yang mencolok antara Indonesia dan negara tetangga mengancam daya saing petani lokal serta stabilitas ketahanan pangan nasional.

Kesenjangan Efisiensi yang Mengkhawatirkan

Indonesia, yang selama ini dikenal sebagai negara agraris dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, kini tengah menghadapi tantangan besar dalam sektor pangan. Sebuah fakta mengejutkan baru-baru ini terungkap mengenai struktur biaya produksi beras nasional yang dinilai sangat tidak efisien jika dibandingkan dengan negara-negara produsen beras utama di kawasan Asia Tenggara.

Data terbaru menunjukkan bahwa biaya produksi satu kilogram beras di Indonesia mencapai angka Rp 12.000. Angka ini terasa sangat berat bagi daya beli masyarakat, namun yang lebih mengkhawatirkan adalah perbandingannya dengan negara tetangga. Thailand, salah satu eksportir beras terbesar di dunia, tercatat hanya membutuhkan biaya produksi sekitar Rp 3.800 per kilogram.

Selisih yang mencapai lebih dari tiga kali lipat ini bukan sekadar angka di atas kertas. Kesenjangan ini mencerminkan adanya masalah sistemik dalam manajemen pertanian di Indonesia, mulai dari tata kelola lahan, teknologi yang digunakan, hingga rantai pasok yang tidak efisien. Jika kondisi ini terus dibiarkan, posisi Indonesia sebagai negara yang mampu swasembada pangan akan semakin terancam oleh gempuran beras impor yang jauh lebih murah.

Mengapa Biaya Produksi Beras di Indonesia Begitu Mahal?

Pertanyaan besar yang muncul adalah mengapa petani di Indonesia harus mengeluarkan biaya yang begitu tinggi untuk menghasilkan produk yang sama dengan negara tetangga. Berdasarkan analisis mendalam, terdapat beberapa faktor kunci yang menjadi penyebab utama tingginya biaya produksi di tanah air.

1. Fragmentasi Lahan Pertanian yang Ekstrem

Salah satu masalah fundamental di Indonesia adalah kepemilikan lahan yang sangat sempit. Sebagian besar petani di Indonesia adalah petani gurem yang hanya mengelola lahan kurang dari 0,5 hektar. Dalam ekonomi pertanian, luas lahan sangat menentukan economies of scale atau skala ekonomi.

Di Thailand, pertanian dilakukan dalam skala besar dengan penguasaan lahan yang lebih luas dan terintegrasi. Hal ini memungkinkan penggunaan mesin secara optimal dan penurunan biaya per unit produksi. Sebaliknya, lahan sempit di Indonesia membuat biaya operasional per kilogram menjadi membengkak karena sulitnya mencapai efisiensi biaya tetap.

2. Rendahnya Tingkat Mekanisasi Pertanian