Meskipun pemerintah telah berupaya mendorong modernisasi melalui berbagai bantuan alat mesin pertanian (alsintan), namun implementasinya di lapangan belum merata. Banyak petani kita yang masih sangat bergantung pada tenaga kerja manusia untuk proses tanam, pemeliharaan, hingga panen.
Penggunaan tenaga kerja manual ini memakan biaya yang sangat tinggi, terutama saat memasuki musim tanam serentak di mana tarif buruh tani melonjak tajam. Berbeda dengan Thailand yang sudah mengadopsi teknologi mekanisasi penuh, mulai dari traktor otomatis hingga mesin panen (combine harvester) yang canggih, sehingga proses produksi menjadi jauh lebih cepat dan murah.
3. Masalah Distribusi dan Harga Input Pertanian
Biaya produksi tidak hanya bicara soal menanam, tetapi juga tentang input pertanian seperti benih, pupuk, dan pestisida. Di Indonesia, rantai distribusi input pertanian seringkali terlalu panjang. Hal ini menyebabkan harga pupuk di tingkat petani seringkali jauh lebih mahal daripada harga subsidi yang ditetapkan pemerintah.
Selain itu, akses petani terhadap pupuk subsidi yang sering mengalami kelangkaan memaksa mereka membeli pupuk non-subsidi dengan harga pasar yang sangat tinggi. Ketidakteraturan pasokan ini menjadi beban tambahan yang signifikan dalam struktur biaya produksi beras nasional.
Dampak Domino Terhadap Ketahanan Pangan Nasional
Tingginya biaya produksi ini menciptakan efek domino yang merugikan berbagai pihak, mulai dari petani hingga konsumen akhir.
Daya Saing Petani Menurun: Petani lokal sulit bersaing dengan beras impor yang harganya jauh di bawah biaya produksi mereka. Hal ini membuat profesi petani menjadi tidak menjanjikan secara ekonomi, yang pada akhirnya memicu migrasi besar-besaran generasi muda dari desa ke kota.
Ketergantungan Impor: Karena harga beras lokal sulit ditekan, pemerintah seringkali mengambil jalan pintas dengan melakukan impor untuk menjaga stabilitas harga di pasar domestik. Hal ini menciptakan ketergantungan jangka panjang terhadap pasar global.
Inflasi Pangan: Beras adalah komoditas strategis. Kenaikan biaya produksi yang tidak dibarengi dengan efisiensi akan langsung berdampak pada harga jual di pasar, yang kemudian memicu inflasi dan menurunkan daya beli masyarakat luas.