Langkah Transformasi yang Diperlukan
Untuk mengejar ketertinggalan dari Thailand dan Vietnam, Indonesia tidak bisa lagi menggunakan cara-cara lama. Diperlukan transformasi fundamental dalam sektor pertanian nasional.
Konsolidasi Lahan melalui Food Estate dan Korporasi Petani
Pemerintah perlu serius dalam mengelola konsep lahan pertanian terpadu. Konsolidasi lahan melalui skema korporasi petani dapat menjadi solusi agar lahan-lahan sempit milik petani dapat dikelola secara kolektif. Dengan pengelolaan kolektif, skala ekonomi dapat tercapai, memudahkan masuknya investasi, dan mempermudah penggunaan teknologi modern.
Akselerasi Digitalisasi dan Teknologi Pertanian
Modernisasi bukan hanya soal membeli traktor, tetapi juga soal penerapan smart farming. Penggunaan sensor tanah, drone untuk penyemprotan pestisida, hingga sistem irigasi otomatis berbasis IoT (Internet of Things) harus mulai diperkenalkan secara masif. Teknologi ini terbukti mampu menekan penggunaan input secara presisi, sehingga mengurangi pemborosan biaya.
Perbaikan Rantai Pasok Input dan Output
Pemerintah harus memastikan bahwa distribusi pupuk dan benih tepat sasaran dan tepat waktu. Selain itu, pembangunan infrastruktur logistik yang efisien sangat diperlukan agar biaya transportasi hasil panen dari desa ke kota tidak membebani harga jual akhir.
Kesimpulan
Kesenjangan biaya produksi beras antara Indonesia (Rp 12.000/kg) dan Thailand (Rp 3.800/kg) adalah alarm keras bagi kedaulatan pangan kita. Masalah ini bukanlah masalah tunggal, melainkan akumulasi dari fragmentasi lahan, rendahnya mekanisasi, dan inefisiensi rantai pasok. Jika pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan tidak segera melakukan langkah konkret melalui modernisasi pertanian dan konsolidasi lahan, maka cita-cita untuk menjadi negara mandiri pangan akan terus menjadi mimpi yang sulit digapai di tengah persaingan global yang semakin kompetitif.