Sebagian Pulau Jawa: Terutama wilayah bagian selatan yang secara historis sangat bergantung pada curah hujan musiman untuk lahan pertanian.
Bali dan Nusa Tenggara: Potensi kekurangan air bersih di sektor pariwisata dan domestik perlu diantisipasi sejak dini.
Sebagian Wilayah Sumatera: Terutama di area dengan tutupan lahan gambut yang rentan terhadap risiko kebakaran hutan.
Dampak Multi-Sektoral yang Perlu Diwaspadai
Peringatan dini ini tidak boleh dianggap remeh oleh para pemangku kepentingan. Dampak dari kekeringan meteorologis ini bersifat domino, di mana satu masalah akan memicu masalah lainnya. BMKG dan para ahli lingkungan memperingatkan adanya risiko di beberapa sektor utama.
1. Ancaman Krisis Ketahanan Pangan
Sektor pertanian merupakan sektor yang paling rentan terhadap fenomena ini. Kekeringan di bulan Agustus bertepatan dengan masa tanam atau masa pertumbuhan beberapa jenis komoditas pangan. Jika debit air irigasi menurun drastis, petani berisiko mengalami gagal panen (puso). Hal ini secara otomatis akan mengganggu stabilitas pasokan pangan nasional dan berpotensi memicu kenaikan harga komoditas pokok di pasar.
2. Risiko Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla)
Kondisi udara yang kering dan suhu yang cenderung meningkat akan membuat vegetasi menjadi sangat mudah terbakar. Di wilayah dengan lahan gambut, risiko ini berlipat ganda. Kebakaran hutan tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga menimbulkan polusi asap lintas batas yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat secara luas serta mengganggu aktivitas ekonomi dan transportasi udara.
3. Krisis Air Bersih dan Sanitasi
Menurunnya cadangan air tanah dan menyusutnya debit mata air akan menyulitkan masyarakat dalam mengakses air bersih untuk kebutuhan sehari-hari seperti minum, memasak, dan sanitasi. Hal ini berpotensi meningkatkan risiko penyakit berbasis air (water-borne diseases) jika masyarakat terpaksa menggunakan sumber air yang tidak layak konsumsi.