Rasa Inklusivitas: Masyarakat merasa bahwa mal adalah bagian dari ruang publik yang bisa dinikmati tanpa merasa terintimidasi oleh kemewahan yang tertutup rapat.
Visual Connection: Pengunjung dapat melihat aktivitas di dalam mal dari luar, yang memicu rasa penasaran (curiosity) untuk datang berkunjung.
Integrasi Urban: Mal terasa seperti perpanjangan dari jalan raya atau trotoar, menciptakan alur pergerakan manusia yang lebih lancar dan natural.
Tantangan Keamanan: Mengutamakan Teknologi di Atas Dinding Tinggi
Pertanyaan besar yang muncul ketika sebuah mal tidak menggunakan pagar tinggi adalah: bagaimana dengan faktor keamanan? Bagi banyak pengelola properti, pagar tinggi adalah solusi paling instan untuk mencegah tindakan kriminal atau masuknya pihak-pihak yang tidak berkepentingan. Namun, James Riady tampaknya melihat bahwa keamanan di era modern tidak harus selalu bersifat fisik dan konvensional.
Alih-alih mengandalkan dinding beton yang tinggi, pengelola mal dapat mengoptimalkan berbagai instrumen keamanan berbasis teknologi dan manajemen manusia yang lebih cerdas. Keamanan yang efektif di ruang terbuka justru sering kali lebih efisien karena tidak menciptakan kesan "penjara" bagi pengunjung.
Beberapa strategi yang dapat diterapkan untuk menjaga keamanan tanpa harus membangun pagar tinggi antara lain:
Sistem Pengawasan CCTV Canggih: Penggunaan kamera pengawas berbasis AI (Artificial Intelligence) yang mampu mendeteksi perilaku mencurigakan secara real-time di seluruh area perimeter.
Manajemen Alur Orang (Crowd Management): Pengaturan pintu masuk dan keluar yang strategis serta penggunaan sensor untuk memantau kepadatan pengunjung.
Peningkatan Kehadiran Personel Keamanan: Petugas keamanan yang terlihat (visible security) secara proaktif di area publik memberikan rasa aman yang lebih nyata bagi pengunjung dibandingkan sekadar tembok tinggi.