DWJ Manajement - PORTAL

Bos Lippo Ogah Pasang Pagar Tinggi-tinggi di Mal

Oleh: DWJ-Manajement 31 Jul 2026
Bos Lippo Ogah Pasang Pagar Tinggi-tinggi di Mal

Pencahayaan Area yang Optimal: Desain pencahayaan yang baik di area perimeter mal dapat mencegah area gelap yang sering menjadi celah tindak kriminal.

Efek Ekonomi dari Aksesibilitas yang Tinggi

Dari sisi bisnis, kebijakan tanpa pagar tinggi ini memiliki implikasi ekonomi yang signifikan. Dalam teori ritel, kemudahan akses (accessibility) berkorelasi positif dengan jumlah kunjungan (footfall). Mal yang terasa terbuka dan mudah diakses oleh pejalan kaki cenderung mendapatkan kunjungan spontan yang lebih tinggi dibandingkan mal yang memerlukan usaha ekstra untuk menembus gerbangnya.

Ketika sebuah mal berhasil menjadi bagian dari denyut nadi kota, ia tidak hanya menjual produk, tetapi juga menjual pengalaman dan kenyamanan sosial. Hal ini menciptakan nilai tambah bagi para penyewa (tenant), karena basis pelanggan mereka tidak terbatas pada mereka yang datang dengan kendaraan pribadi, tetapi juga mencakup masyarakat yang bergerak aktif di area urban.

Transformasi Mal Menjadi Pusat Gaya Hidup Terintegrasi

Visi yang diusung oleh Lippo Group melalui pernyataan James Riady ini sejalan dengan tren global mengenai pembangunan kawasan terpadu atau mixed-use development. Di kota-kota besar dunia seperti Singapura atau Tokyo, pusat perbelanjaan tidak berdiri sendiri sebagai entitas terpisah, melainkan menyatu dengan trotoar, transportasi umum, dan area hijau.

Konsep "Live, Work, Play" yang sering digaungkan oleh pengembang besar menuntut adanya integrasi yang mulus antara hunian, perkantoran, dan pusat perbelanjaan. Pagar tinggi adalah musuh utama dari integrasi ini. Dengan menciptakan ruang yang tanpa sekat, Lippo Group berupaya membangun ekosistem di mana orang dapat berpindah dari satu zona ke zona lain dengan mudah, menciptakan dinamika kehidupan perkotaan yang sehat dan produktif.

Hal ini juga mendukung gerakan "walkable city" atau kota yang ramah pejalan kaki. Ketika mal menyediakan ruang terbuka yang terintegrasi dengan trotoar publik, hal tersebut mendorong masyarakat untuk lebih banyak berjalan kaki, yang pada gilirannya memberikan dampak positif bagi kesehatan masyarakat dan pengurangan polusi kendaraan di area sekitar pusat perbelanjaan.

Kesimpulan

Keputusan James Riady untuk tidak memasang pagar tinggi di mal-mal milik Lippo Group mencerminkan pergeseran paradigma dalam pengelolaan properti ritel di Indonesia. Dari model "benteng eksklusif" menuju model "ruang publik inklusif". Meskipun menghadirkan tantangan tersendiri dalam hal manajemen keamanan, pendekatan ini menawarkan keuntungan jangka panjang berupa aksesibilitas yang lebih baik, integrasi urban yang lebih kuat, dan pengalaman konsumen yang lebih nyaman.

Keberhasilan strategi ini akan sangat bergantung pada sejauh mana teknologi keamanan dan manajemen operasional mampu menutupi ketiadaan pembatas fisik, sembari tetap menjaga keramahan lingkungan bagi seluruh lapisan masyarakat. Pada akhirnya, mal masa depan bukan lagi tentang seberapa tinggi tembok yang dibangun, melainkan seberapa luas manfaat yang bisa dirasakan oleh komunitas di sekitarnya.