DWJ Manajement - PORTAL

Bos Lippo Ogah Pasang Pagar Tinggi-tinggi di Mal

Oleh: DWJ-Manajement 31 Jul 2026
Bos Lippo Ogah Pasang Pagar Tinggi-tinggi di Mal

Filosofi Tanpa Sekat: Mengapa James Riady Enggan Membangun Pagar Tinggi di Pusat Perbelanjaan Lippo

CEO Lippo Group menegaskan pentingnya keterbukaan ruang publik dalam ekosistem pusat perbelanjaan untuk menjaga kenyamanan, aksesibilitas, dan integrasi sosial.

Dalam dinamika industri ritel yang terus berubah, konsep pusat perbelanjaan kini telah bergeser jauh dari sekadar tempat transaksi jual-beli barang. Mal telah bertransformasi menjadi ruang sosial, pusat gaya hidup, hingga "paru-paru" aktivitas masyarakat perkotaan. Menanggapi tren perkembangan urban ini, CEO Lippo Group, James Riady, memberikan sebuah pernyataan yang menarik perhatian pelaku industri properti dan ritel nasional.

James Riady mengungkapkan bahwa pihaknya enggan membangun pagar-pagar tinggi yang membatasi area pusat perbelanjaan kelolaan Lippo Group dari lingkungan sekitarnya. Keputusan ini bukan tanpa alasan, melainkan didasari oleh filosofi mengenai aksesibilitas dan bagaimana sebuah ruang komersial seharusnya berinteraksi dengan masyarakat luas.

Menghapus Sekat Psikologis Antara Mal dan Masyarakat

Secara tradisional, banyak pengelola pusat perbelanjaan kelas atas cenderung menerapkan sistem "gated community" atau kawasan tertutup dengan pagar tinggi dan pengamanan ketat di perimeter luar. Tujuannya biasanya untuk menciptakan kesan eksklusivitas dan memberikan rasa aman yang absolut bagi pengunjung. Namun, bagi James Riady, penggunaan pagar tinggi justru berisiko menciptakan jarak psikologis antara mal dan publik.

Pagar tinggi sering kali memberikan sinyal visual bahwa sebuah area bersifat eksklusif, tertutup, dan mungkin sulit dijangkau oleh semua lapisan masyarakat. Dalam perspektif perencanaan kota modern, hal ini dapat menyebabkan fragmentasi ruang. Mal yang dibatasi oleh dinding atau pagar yang masif cenderung menjadi "pulau terisolasi" di tengah kepadatan kota, alih-alih menjadi bagian integral dari ekosistem urban.

Dengan menghindari penggunaan pagar tinggi, Lippo Group berupaya untuk menciptakan lingkungan yang lebih inklusif. Konsep ini memungkinkan pejalan kaki dan masyarakat umum merasa lebih "diundang" untuk memasuki area tersebut. Keterbukaan visual ini dianggap mampu menurunkan hambatan masuk (barrier to entry) bagi calon konsumen, yang pada akhirnya dapat meningkatkan lalu lintas pengunjung secara organik.

Psikologi Ruang dan Kenyamanan Konsumen

Keputusan ini juga berkaitan erat dengan psikologi konsumen. Dalam dunia ritel, kenyamanan tidak hanya ditentukan oleh pendingin ruangan yang sejuk atau deretan brand ternama, tetapi juga oleh bagaimana perasaan seseorang saat mendekati sebuah lokasi. Ruang yang terbuka dan transparan memberikan kesan ramah dan aman secara psikologis.

Berikut adalah beberapa dampak psikologis dari ruang terbuka dalam pusat perbelanjaan:

Rasa Inklusivitas: Masyarakat merasa bahwa mal adalah bagian dari ruang publik yang bisa dinikmati tanpa merasa terintimidasi oleh kemewahan yang tertutup rapat.

Visual Connection: Pengunjung dapat melihat aktivitas di dalam mal dari luar, yang memicu rasa penasaran (curiosity) untuk datang berkunjung.

Integrasi Urban: Mal terasa seperti perpanjangan dari jalan raya atau trotoar, menciptakan alur pergerakan manusia yang lebih lancar dan natural.

Tantangan Keamanan: Mengutamakan Teknologi di Atas Dinding Tinggi

Pertanyaan besar yang muncul ketika sebuah mal tidak menggunakan pagar tinggi adalah: bagaimana dengan faktor keamanan? Bagi banyak pengelola properti, pagar tinggi adalah solusi paling instan untuk mencegah tindakan kriminal atau masuknya pihak-pihak yang tidak berkepentingan. Namun, James Riady tampaknya melihat bahwa keamanan di era modern tidak harus selalu bersifat fisik dan konvensional.

Alih-alih mengandalkan dinding beton yang tinggi, pengelola mal dapat mengoptimalkan berbagai instrumen keamanan berbasis teknologi dan manajemen manusia yang lebih cerdas. Keamanan yang efektif di ruang terbuka justru sering kali lebih efisien karena tidak menciptakan kesan "penjara" bagi pengunjung.

Beberapa strategi yang dapat diterapkan untuk menjaga keamanan tanpa harus membangun pagar tinggi antara lain:

Sistem Pengawasan CCTV Canggih: Penggunaan kamera pengawas berbasis AI (Artificial Intelligence) yang mampu mendeteksi perilaku mencurigakan secara real-time di seluruh area perimeter.

Manajemen Alur Orang (Crowd Management): Pengaturan pintu masuk dan keluar yang strategis serta penggunaan sensor untuk memantau kepadatan pengunjung.

Peningkatan Kehadiran Personel Keamanan: Petugas keamanan yang terlihat (visible security) secara proaktif di area publik memberikan rasa aman yang lebih nyata bagi pengunjung dibandingkan sekadar tembok tinggi.

Pencahayaan Area yang Optimal: Desain pencahayaan yang baik di area perimeter mal dapat mencegah area gelap yang sering menjadi celah tindak kriminal.

Efek Ekonomi dari Aksesibilitas yang Tinggi

Dari sisi bisnis, kebijakan tanpa pagar tinggi ini memiliki implikasi ekonomi yang signifikan. Dalam teori ritel, kemudahan akses (accessibility) berkorelasi positif dengan jumlah kunjungan (footfall). Mal yang terasa terbuka dan mudah diakses oleh pejalan kaki cenderung mendapatkan kunjungan spontan yang lebih tinggi dibandingkan mal yang memerlukan usaha ekstra untuk menembus gerbangnya.

Ketika sebuah mal berhasil menjadi bagian dari denyut nadi kota, ia tidak hanya menjual produk, tetapi juga menjual pengalaman dan kenyamanan sosial. Hal ini menciptakan nilai tambah bagi para penyewa (tenant), karena basis pelanggan mereka tidak terbatas pada mereka yang datang dengan kendaraan pribadi, tetapi juga mencakup masyarakat yang bergerak aktif di area urban.

Transformasi Mal Menjadi Pusat Gaya Hidup Terintegrasi

Visi yang diusung oleh Lippo Group melalui pernyataan James Riady ini sejalan dengan tren global mengenai pembangunan kawasan terpadu atau mixed-use development. Di kota-kota besar dunia seperti Singapura atau Tokyo, pusat perbelanjaan tidak berdiri sendiri sebagai entitas terpisah, melainkan menyatu dengan trotoar, transportasi umum, dan area hijau.

Konsep "Live, Work, Play" yang sering digaungkan oleh pengembang besar menuntut adanya integrasi yang mulus antara hunian, perkantoran, dan pusat perbelanjaan. Pagar tinggi adalah musuh utama dari integrasi ini. Dengan menciptakan ruang yang tanpa sekat, Lippo Group berupaya membangun ekosistem di mana orang dapat berpindah dari satu zona ke zona lain dengan mudah, menciptakan dinamika kehidupan perkotaan yang sehat dan produktif.

Hal ini juga mendukung gerakan "walkable city" atau kota yang ramah pejalan kaki. Ketika mal menyediakan ruang terbuka yang terintegrasi dengan trotoar publik, hal tersebut mendorong masyarakat untuk lebih banyak berjalan kaki, yang pada gilirannya memberikan dampak positif bagi kesehatan masyarakat dan pengurangan polusi kendaraan di area sekitar pusat perbelanjaan.

Kesimpulan

Keputusan James Riady untuk tidak memasang pagar tinggi di mal-mal milik Lippo Group mencerminkan pergeseran paradigma dalam pengelolaan properti ritel di Indonesia. Dari model "benteng eksklusif" menuju model "ruang publik inklusif". Meskipun menghadirkan tantangan tersendiri dalam hal manajemen keamanan, pendekatan ini menawarkan keuntungan jangka panjang berupa aksesibilitas yang lebih baik, integrasi urban yang lebih kuat, dan pengalaman konsumen yang lebih nyaman.

Keberhasilan strategi ini akan sangat bergantung pada sejauh mana teknologi keamanan dan manajemen operasional mampu menutupi ketiadaan pembatas fisik, sembari tetap menjaga keramahan lingkungan bagi seluruh lapisan masyarakat. Pada akhirnya, mal masa depan bukan lagi tentang seberapa tinggi tembok yang dibangun, melainkan seberapa luas manfaat yang bisa dirasakan oleh komunitas di sekitarnya.

Menampilkan Seluruh Artikel