DWJ Manajement - PORTAL

Bos Perbanas Blak-Blakan Soal Dampak ke Bank Jika BI Rate Naik

Oleh: DWJ-Manajement 21 Jul 2026
Bos Perbanas Blak-Blakan Soal Dampak ke Bank Jika BI Rate Naik

Peningkatan NPL tidak hanya mengurangi laba bersih secara langsung melalui biaya pencadangan, tetapi juga dapat mengganggu likuiditas bank dan menurunkan kepercayaan investor terhadap kualitas aset bank tersebut. Oleh karena itu, manajemen risiko menjadi kunci utama bagi perbankan dalam menghadapi siklus suku bunga tinggi.

Beberapa langkah mitigasi yang perlu dilakukan perbankan meliputi:

Melakukan monitoring ketat terhadap profil risiko debitur secara berkala.

Melakukan restrukturisasi kredit secara selektif bagi debitur yang terdampak secara temporer.

Memperkuat manajemen likuiditas untuk memastikan ketersediaan dana di tengah persaingan suku bunga.

Perbedaan Dampak Antar Skala Bank

Penting untuk dicatat bahwa dampak kenaikan BI Rate tidak akan dirasakan secara seragam oleh seluruh lapisan perbankan. Bank-bank besar dengan basis dana murah (CASA) yang kuat cenderung lebih resilien menghadapi kenaikan suku bunga. Hal ini dikarenakan mereka tidak perlu terlalu agresif dalam menaikkan suku bunga deposito untuk mempertahankan likuiditas.

Sebaliknya, bank-bank dengan skala lebih kecil atau bank yang sangat bergantung pada dana deposito berjangka akan merasakan tekanan yang jauh lebih berat. Mereka terpaksa menaikkan biaya dana secara signifikan agar tidak kehilangan nasabah, yang secara otomatis menekan margin keuntungan mereka lebih dalam dibandingkan bank-bank besar.

Kesimpulan

Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia merupakan pedang bermata dua bagi industri perbankan. Di satu sisi, kebijakan ini mungkin diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi. Namun di sisi lain, perbankan harus bersiap menghadapi tantangan berat berupa kenaikan biaya dana (cost of fund), penyusutan margin bunga bersih (NIM), hingga risiko peningkatan kredit bermasalah (NPL).

Ketua Umum Perbanas, Hery Gunardi, secara implisit mengingatkan bahwa ketangkasan dalam manajemen risiko dan efisiensi operasional akan menjadi penentu utama apakah perbankan mampu mempertahankan profitabilitasnya di tengah ketidakpastian kebijakan moneter ini. Penguatan kualitas aset dan optimalisasi dana murah menjadi strategi krusial yang harus diprioritaskan oleh seluruh pelaku industri perbankan nasional.