Meskipun Anwar menyatakan belum urgen, para ahli ekonomi lain mengingatkan bahwa pengembangan CBDC juga berkaitan dengan kedaulatan moneter. Di tengah maraknya penggunaan mata uang kripto (cryptocurrency) dan stablecoin yang dikelola oleh pihak swasta, kehadiran Rupiah Digital dipandang sebagai langkah preventif agar negara tetap memiliki kontrol penuh atas kebijakan moneter dan peredaran uang.
Jika mata uang digital swasta mulai mendominasi transaksi masyarakat, peran Bank Indonesia dalam mengendalikan inflasi dan mengatur jumlah uang beredar bisa melemah. Inilah dilema yang dihadapi oleh bank sentral di seluruh dunia: menunda untuk memastikan stabilitas, atau bergerak cepat untuk menjaga kedaulatan.
Fokus Strategis Bank Indonesia ke Depan
Sebagai calon Deputi Gubernur, Anwar Bashori memberikan sinyal bahwa fokus utama Bank Indonesia dalam waktu dekat seharusnya tetap pada mandat utamanya: menjaga kestabilan nilai Rupiah dan stabilitas sistem keuangan. Isu-isu seperti pengendalian inflasi, manajemen cadangan devisa, serta penguatan kebijakan suku bunga jauh lebih krusial bagi pemulihan dan pertumbuhan ekonomi nasional saat ini.
Penyelesaian masalah rantai pasok, pengelolaan fluktuasi nilai tukar terhadap dolar AS, serta penguatan sektor UMKM melalui digitalisasi tetap menjadi prioritas yang tidak boleh terdistraksi oleh eksperimen teknologi yang belum matang. Menurutnya, inovasi haruslah menjadi pendukung stabilitas, bukan justru menjadi beban baru bagi otoritas moneter.
Anwar juga menekankan pentingnya kolaborasi antara Bank Indonesia dengan pemerintah dan sektor industri keuangan untuk membangun ekosistem digital yang inklusif. Digitalisasi tetap harus berjalan, namun harus dilakukan secara bertahap, terukur, dan berbasis pada penguatan fundamental ekonomi terlebih dahulu.
Kesimpulan
Pernyataan M. Anwar Bashori mengenai belum urgen-nya implementasi Rupiah Digital memberikan perspektif yang berimbang di tengah euforia digitalisasi keuangan global. Pendekatan yang mengutamakan stabilitas sistem keuangan, kesiapan infrastruktur, dan mitigasi risiko keamanan siber merupakan langkah pragmatis yang sangat dibutuhkan dalam menjaga ketahanan ekonomi Indonesia.
Meskipun Rupiah Digital memiliki potensi besar di masa depan sebagai alat kedaulatan moneter, memastikan bahwa fondasi ekonomi nasional kuat dan sistem pembayaran saat ini tetap inklusif adalah tugas yang jauh lebih mendesak bagi Bank Indonesia. Inovasi digital tetap harus dikejar, namun dengan ritme yang terkendali agar tidak mengganggu stabilitas yang telah terjaga.