Destry Damayanti Siap Perluas Ekspansi QRIS, Begini Proyeksi Nasib Uang Tunai di Era Digital
Calon Gubernur Bank Indonesia ini menekankan pentingnya percepatan digitalisasi sistem pembayaran nasional tanpa mengabaikan eksistensi uang fisik di masyarakat.
Lanskap ekonomi digital Indonesia tengah berada di titik persimpangan yang krusial. Di tengah masifnya penggunaan teknologi finansial, arah kebijakan moneter dan sistem pembayaran nasional menjadi sorotan utama. Calon Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, memberikan sinyal kuat bahwa transformasi digital akan menjadi agenda utama dalam kepemimpinannya mendatang.
Dalam berbagai kesempatan, Destry menegaskan komitmennya untuk terus melanjutkan dan memperluas ekspansi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Langkah ini dinilai bukan sekadar mengikuti tren global, melainkan sebuah kebutuhan strategis untuk memperkuat efisiensi ekonomi nasional dan mempercepat inklusi keuangan di seluruh pelosok negeri.
Transformasi Digital sebagai Pilar Ekonomi Masa Depan
Digitalisasi sistem pembayaran bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keniscayaan. Destry Damayanti memandang bahwa penguatan infrastruktur pembayaran digital adalah kunci untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dengan sistem yang terintegrasi, transaksi menjadi lebih cepat, murah, dan transparan.
Ekspansi QRIS yang direncanakan akan menyasar lebih banyak sektor, mulai dari pasar tradisional hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Menurutnya, digitalisasi pembayaran akan memberikan dampak domino yang positif bagi ekosistem ekonomi secara keseluruhan. Berikut adalah beberapa alasan mengapa ekspansi digitalisasi ini menjadi prioritas:
Efisiensi Transaksi: Mengurangi biaya operasional baik bagi penyedia jasa keuangan maupun bagi konsumen akhir.
Transparansi Data: Memudahkan pemerintah dan otoritas terkait dalam memantau perputaran uang dan kebijakan moneter secara lebih akurat.
Inklusi Keuangan: Membuka akses masyarakat yang sebelumnya tidak terjangkau perbankan (unbanked) untuk masuk ke dalam ekosistem keuangan formal.
Keamanan: Mengurangi risiko peredaran uang palsu dan kejahatan fisik yang sering menyertai transaksi tunai.
Destry juga menyoroti pentingnya konektivitas lintas negara (cross-border) melalui QRIS. Hal ini bertujuan untuk memudahkan wisatawan mancanegara saat berkunjung ke Indonesia dan sebaliknya, yang pada akhirnya akan mendongkrak sektor pariwisata dan perdagangan internasional.
Menjawab Persoalan: Apakah Uang Tunai Akan Dihapuskan?
Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul di tengah gelombang digitalisasi adalah mengenai nasib uang tunai. Banyak pihak khawatir bahwa dengan semakin dominannya QRIS dan dompet digital (e-wallet), uang fisik akan segera punah dari peredaran. Namun, Destry Damayanti memberikan pandangan yang lebih moderat dan pragmatis.
Menurut pandangannya, arah kebijakan Bank Indonesia tidak bertujuan untuk menghapuskan uang tunai secara total, melainkan menuju masyarakat yang "less cash" (mengurangi ketergantungan pada uang tunai), bukan "cashless" (tanpa uang tunai sama sekali). Uang tunai tetap memiliki peran vital dalam ekonomi Indonesia, terutama mengingat karakteristik geografis Indonesia yang luas dan beragam.
Alasan Uang Tunai Tetap Relevan
Destry menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang membuat uang tunai tetap tidak tergantikan dalam waktu dekat:
Pertama, faktor infrastruktur digital yang belum merata. Meskipun di kota-kota besar koneksi internet sudah sangat stabil, masih banyak wilayah di pelosok Indonesia yang mengalami kendala sinyal. Dalam kondisi tersebut, uang tunai tetap menjadi alat tukar yang paling andal.
Kedua, faktor inklusi sosial. Masih banyak lapisan masyarakat, terutama kelompok lansia atau masyarakat di daerah terpencil, yang belum memiliki literasi digital yang cukup untuk menggunakan aplikasi pembayaran berbasis smartphone. Bagi kelompok ini, uang fisik adalah instrumen yang paling mudah dipahami dan digunakan.
Ketiga, peran uang tunai sebagai instrumen cadangan dalam situasi darurat. Jika terjadi gangguan sistem pada jaringan komunikasi atau kegagalan teknis pada penyedia jasa pembayaran digital, uang tunai menjadi jaring pengaman (safety net) yang menjamin transaksi tetap bisa berjalan.
Transisi Menuju Masyarakat Less-Cash
Meskipun uang tunai tetap ada, Destry menegaskan bahwa porsi penggunaannya secara perlahan akan berkurang seiring dengan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap sistem digital. Tantangan utamanya adalah bagaimana membangun ekosistem yang tidak hanya canggih secara teknologi, tetapi juga aman dan inklusif bagi semua kalangan.
Tantangan Keamanan dan Literasi Digital
Ekspansi digitalisasi yang masif tentu membawa tantangan baru yang tidak kalah besarnya. Destry Damayanti menyadari bahwa keamanan siber (cybersecurity) harus menjadi fondasi utama dalam pengembangan sistem pembayaran digital. Meningkatnya volume transaksi digital secara otomatis meningkatkan risiko serangan siber, pencurian data, dan penipuan daring (fraud).
Bank Indonesia di bawah kepemimpinan masa depan dituntut untuk terus memperkuat protokol keamanan dan bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk penyedia layanan teknologi dan aparat penegak hukum. Selain masalah teknis, aspek literasi digital masyarakat juga menjadi pekerjaan rumah yang besar.
Digitalisasi tanpa literasi yang cukup justru dapat menjadi bumerang. Masyarakat harus diedukasi agar tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pengguna yang cerdas dan waspada terhadap berbagai modus kejahatan digital. Program edukasi keuangan dan digitalisasi harus berjalan beriringan dengan pengembangan infrastruktur.
Strategi Penguatan Ekosistem
Untuk menghadapi tantangan tersebut, terdapat beberapa langkah strategis yang perlu diambil dalam pengembangan sistem pembayaran nasional:
Penguatan Regulasi: Menyusun aturan main yang ketat bagi penyelenggara jasa pembayaran untuk menjamin perlindungan konsumen.
Investasi Teknologi Keamanan: Mengadopsi teknologi enkripsi terbaru dan sistem deteksi dini terhadap aktivitas mencurigakan.
Kolaborasi Lintas Sektor: Memperkuat kerja sama antara BI, OJK, pemerintah, dan sektor swasta untuk menciptakan ekosistem yang terpadu.
Edukasi Berkelanjutan: Melakukan kampanye literasi digital secara masif hingga ke tingkat akar rumput.
Kesimpulan
Visi Destry Damayanti untuk melanjutkan ekspansi QRIS menunjukkan arah kebijakan Bank Indonesia yang progresif dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Digitalisasi sistem pembayaran dipandang sebagai mesin penggerak utama dalam mempercepat inklusi keuangan dan efisiensi ekonomi nasional.
Namun, transisi menuju ekonomi digital tidak akan dilakukan dengan cara menggusur peran uang tunai secara mendadak. Kebijakan yang diambil cenderung bersifat evolusioner, di mana uang tunai tetap dipertahankan sebagai instrumen pendukung, terutama bagi masyarakat yang belum terjangkau digitalisasi. Fokus utama tetap pada pembangunan ekosistem yang aman, terpercaya, dan inklusif, sehingga seluruh lapisan masyarakat dapat merasakan manfaat nyata dari kemajuan teknologi finansial.