Penurunan Nafsu Makan: Kondisi tubuh yang lemah akibat infeksi pernapasan sering kali berdampak pada gangguan pencernaan dan asupan nutrisi.
Ancaman Ganda: Kehilangan Habitat dan Krisis Kesehatan
Kondisi ini menciptakan sebuah "perangkap maut" bagi orangutan. Di satu sisi, mereka kehilangan tempat tinggal dan sumber pangan karena hutan terbakar. Di sisi lain, mereka harus berjuang bertahan hidup di tengah udara yang beracun. Situasi ini memperparah status konservasi orangutan yang memang sudah berada di ambang kepunahan.
Para ahli ekologi menyatakan bahwa dampak ISPA ini tidak hanya bersifat jangka pendek. Paparan asap yang berkepanjangan dapat menyebabkan kerusakan paru-paru permanen pada satwa, yang pada akhirnya akan menurunkan tingkat keberlangsungan hidup (survival rate) populasi mereka di alam liar. Jika tingkat kematian meningkat akibat penyakit pernapasan, pemulihan populasi orangutan akan menjadi jauh lebih sulit dan memakan waktu lama.
Mengapa Orangutan Sangat Rentan?
Ada beberapa alasan mengapa dampak karhutla terasa begitu mematikan bagi primata ini dibandingkan dengan spesies lain:
Ketergantungan pada Kanopi: Orangutan menghabiskan sebagian besar waktunya di atas pohon. Saat kebakaran terjadi, asap cenderung berkumpul di area kanopi, membuat mereka terpapar konsentrasi polutan yang lebih tinggi.
Metabolisme dan Respirasi: Sebagai mamalia besar, orangutan membutuhkan asupan oksigen yang stabil untuk mendukung aktivitas mereka yang kompleks di hutan.
Sulitnya Intervensi Medis: Berbeda dengan manusia yang dapat dengan mudah mendapatkan bantuan medis atau masker, orangutan yang sakit di tengah hutan yang terbakar sangat sulit untuk mendapatkan perawatan darurat.
Tantangan Tim Konservasi di Lapangan