Lawan Kesenjangan Digital, Korea Selatan Gencarkan Program Literasi Teknologi untuk Lansia
Menghadapi gelombang digitalisasi yang pesat, Negeri Ginseng berupaya memastikan generasi tua tidak terisolasi dari ekosistem teknologi modern.
Korea Selatan telah lama dikenal sebagai pemimpin global dalam inovasi teknologi. Dari jaringan 5G tercepat hingga kehadiran raksasa teknologi dunia seperti Samsung dan LG, negara ini merupakan kiblat bagi kemajuan digital. Namun, di balik gemerlap layar OLED dan kecepatan koneksi internet yang luar biasa, tersimpan sebuah tantangan sosial yang mendalam: kesenjangan digital yang mulai memisahkan generasi muda yang fasih teknologi dengan generasi lansia yang tertinggal.
Fenomena ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan masalah kemanusiaan. Di tengah transformasi layanan publik, perbankan, hingga transportasi yang kini hampir sepenuhnya beralih ke platform digital, warga lanjut usia (lansia) di Korea Selatan menghadapi risiko nyata berupa isolasi sosial dan kesulitan memenuhi kebutuhan dasar hidup mereka sehari-hari.
Paradoks Negara Teknologi: Kemajuan Cepat vs Adaptasi Lambat
Korea Selatan saat ini tengah menghadapi tantangan demografi yang serius, yaitu penuaan populasi dengan kecepatan yang sangat tinggi. Di sisi lain, akselerasi digital di negara ini berjalan tanpa kompromi. Transisi dari sistem konvensional ke sistem berbasis aplikasi terjadi dalam waktu singkat, menciptakan jurang lebar yang sering disebut sebagai "digital divide" atau kesenjangan digital.
Bagi warga berusia 20 atau 30 tahun, menggunakan aplikasi pemesanan makanan atau melakukan transaksi perbankan via ponsel pintar adalah aktivitas refleks. Namun, bagi warga berusia 70 tahun ke atas, antarmuka yang kompleks, istilah-istilah teknis yang asing, hingga ukuran teks yang kecil pada layar dapat menjadi penghalang yang sangat intimidatif.
Kesenjangan ini menciptakan apa yang disebut oleh para sosiolog sebagai "keterasingan digital". Ketika sebuah masyarakat beralih ke ruang digital untuk berinteraksi, mereka yang tidak memiliki keterampilan digital secara otomatis terputus dari arus informasi, layanan kesehatan, dan koneksi sosial. Hal ini berdampak langsung pada kualitas hidup dan kesejahteraan mental para lansia.
Ancaman "Teror Kios" di Ruang Publik
Salah satu dampak yang paling terasa dari digitalisasi yang tidak inklusif adalah maraknya penggunaan mesin kios (kiosk) di tempat-tempat umum. Di Seoul dan kota-kota besar lainnya, sangat mudah menemukan restoran cepat saji, kafe, hingga loket tiket kereta api yang kini sepenuhnya menggunakan mesin layar sentuh untuk pemesanan.
Bagi banyak lansia, fenomena ini sering disebut sebagai "teror kios". Mereka sering kali merasa malu atau cemas ketika harus berdiri di depan mesin yang terus menekan mereka dengan waktu operasional, sementara mereka masih kesulitan memahami menu atau cara melakukan pembayaran non-tunai. Ketidakmampuan mengoperasikan mesin ini sering kali membuat mereka memilih untuk tidak keluar rumah atau menghindari layanan tertentu, yang pada akhirnya memperburuk isolasi sosial.