DWJ Manajement - PORTAL

FOTO: Korsel Bantu Lansia Hadapi Kesenjangan Digital

Oleh: DWJ-Manajement 16 Sep 2026
FOTO: Korsel Bantu Lansia Hadapi Kesenjangan Digital

Lawan Kesenjangan Digital, Korea Selatan Gencarkan Program Literasi Teknologi untuk Lansia

Menghadapi gelombang digitalisasi yang pesat, Negeri Ginseng berupaya memastikan generasi tua tidak terisolasi dari ekosistem teknologi modern.

Korea Selatan telah lama dikenal sebagai pemimpin global dalam inovasi teknologi. Dari jaringan 5G tercepat hingga kehadiran raksasa teknologi dunia seperti Samsung dan LG, negara ini merupakan kiblat bagi kemajuan digital. Namun, di balik gemerlap layar OLED dan kecepatan koneksi internet yang luar biasa, tersimpan sebuah tantangan sosial yang mendalam: kesenjangan digital yang mulai memisahkan generasi muda yang fasih teknologi dengan generasi lansia yang tertinggal.

Fenomena ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan masalah kemanusiaan. Di tengah transformasi layanan publik, perbankan, hingga transportasi yang kini hampir sepenuhnya beralih ke platform digital, warga lanjut usia (lansia) di Korea Selatan menghadapi risiko nyata berupa isolasi sosial dan kesulitan memenuhi kebutuhan dasar hidup mereka sehari-hari.

Paradoks Negara Teknologi: Kemajuan Cepat vs Adaptasi Lambat

Korea Selatan saat ini tengah menghadapi tantangan demografi yang serius, yaitu penuaan populasi dengan kecepatan yang sangat tinggi. Di sisi lain, akselerasi digital di negara ini berjalan tanpa kompromi. Transisi dari sistem konvensional ke sistem berbasis aplikasi terjadi dalam waktu singkat, menciptakan jurang lebar yang sering disebut sebagai "digital divide" atau kesenjangan digital.

Bagi warga berusia 20 atau 30 tahun, menggunakan aplikasi pemesanan makanan atau melakukan transaksi perbankan via ponsel pintar adalah aktivitas refleks. Namun, bagi warga berusia 70 tahun ke atas, antarmuka yang kompleks, istilah-istilah teknis yang asing, hingga ukuran teks yang kecil pada layar dapat menjadi penghalang yang sangat intimidatif.

Kesenjangan ini menciptakan apa yang disebut oleh para sosiolog sebagai "keterasingan digital". Ketika sebuah masyarakat beralih ke ruang digital untuk berinteraksi, mereka yang tidak memiliki keterampilan digital secara otomatis terputus dari arus informasi, layanan kesehatan, dan koneksi sosial. Hal ini berdampak langsung pada kualitas hidup dan kesejahteraan mental para lansia.

Ancaman "Teror Kios" di Ruang Publik

Salah satu dampak yang paling terasa dari digitalisasi yang tidak inklusif adalah maraknya penggunaan mesin kios (kiosk) di tempat-tempat umum. Di Seoul dan kota-kota besar lainnya, sangat mudah menemukan restoran cepat saji, kafe, hingga loket tiket kereta api yang kini sepenuhnya menggunakan mesin layar sentuh untuk pemesanan.

Bagi banyak lansia, fenomena ini sering disebut sebagai "teror kios". Mereka sering kali merasa malu atau cemas ketika harus berdiri di depan mesin yang terus menekan mereka dengan waktu operasional, sementara mereka masih kesulitan memahami menu atau cara melakukan pembayaran non-tunai. Ketidakmampuan mengoperasikan mesin ini sering kali membuat mereka memilih untuk tidak keluar rumah atau menghindari layanan tertentu, yang pada akhirnya memperburuk isolasi sosial.

Langkah Konkret Pemerintah Korea Selatan: Memanusiakan Teknologi

Menyadari urgensi masalah ini, pemerintah Korea Selatan tidak tinggal diam. Mereka menyadari bahwa jika tidak ada intervensi, kemajuan teknologi justru akan menjadi bumerang yang memperlebar ketimpangan sosial di masyarakat.

Beberapa langkah strategis yang telah dan sedang diimplementasikan meliputi:

Pusat Edukasi Digital Komunitas: Pemerintah membangun pusat-pusat pelatihan di tingkat lingkungan atau kelurahan. Di tempat ini, lansia diberikan pelatihan intensif mengenai cara menggunakan ponsel pintar, aplikasi perpesanan, hingga cara melakukan panggilan video untuk tetap terhubung dengan keluarga.

Program Mentor Lansia: Menggunakan pendekatan sebaya (peer-to-peer), program ini melatih lansia yang sudah lebih mahir untuk membantu sesama lansia lainnya. Hal ini dianggap lebih efektif karena bahasa dan kecepatan pengajaran yang digunakan lebih sesuai dengan ritme mereka.

Standarisasi Desain Inklusif: Mendorong sektor swasta untuk menerapkan "Universal Design" pada perangkat digital dan mesin kios. Ini mencakup penyediaan fitur perintah suara, ukuran teks yang dapat diperbesar, antarmuka yang lebih sederhana, hingga mode khusus lansia.

Dukungan Infrastruktur Digital: Memastikan bahwa layanan publik esensial tetap menyediakan opsi konvensional atau bantuan manusia agar warga yang belum melek digital tetap bisa mengakses hak-hak dasar mereka.

Pentingnya Literasi Digital dalam Ekosistem Ekonomi

Selain masalah sosial, literasi digital bagi lansia juga berkaitan erat dengan ketahanan ekonomi. Di era di mana belanja daring (e-commerce) dan perbankan digital menjadi tulang punggung ekonomi, lansia yang tidak mampu menggunakan teknologi akan kesulitan dalam mengelola keuangan mereka secara mandiri. Mereka menjadi sangat bergantung pada orang lain, yang dapat mengurangi rasa percaya diri dan kemandirian mereka di usia tua.

Dengan membekali lansia dengan keterampilan digital, Korea Selatan sebenarnya sedang berupaya mempertahankan produktivitas dan kemandirian ekonomi kelompok usia ini. Lansia yang terampil digital dapat tetap berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi ringan, melakukan belanja kebutuhan rumah tangga secara mandiri, dan mengakses layanan kesehatan secara daring tanpa harus selalu keluar rumah.

Pelajaran bagi Dunia: Teknologi Haruslah Inklusif

Kasus yang dialami Korea Selatan memberikan pelajaran berharga bagi negara-negara lain, termasuk Indonesia, yang juga sedang mengalami percepatan digitalisasi yang masif. Teknologi seharusnya berfungsi sebagai jembatan, bukan dinding pemisah. Sebuah kemajuan peradaban tidak dapat diukur hanya dari seberapa canggih alat yang diciptakan, melainkan dari seberapa banyak orang yang bisa merasakan manfaat dari alat tersebut tanpa ada yang tertinggal.

Penting bagi para pengembang teknologi, pemerintah, dan pelaku industri untuk selalu menyertakan perspektif inklusivitas dalam setiap inovasi yang mereka buat. Inovasi yang hebat adalah inovasi yang dapat digunakan oleh seorang anak berusia 5 tahun maupun seorang lansia berusia 80 tahun dengan tingkat kesulitan yang minimal.

Tantangan Masa Depan: Kecerdasan Buatan (AI)

Ke depan, tantangan akan semakin berat dengan kehadiran Kecerdasan Buatan (AI) yang semakin terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari. Jika hari ini kita berbicara tentang cara menggunakan aplikasi, esok hari kita akan berbicara tentang cara berinteraksi dengan asisten digital berbasis AI. Oleh karena itu, upaya literasi digital bagi lansia harus menjadi agenda berkelanjutan, bukan sekadar program jangka pendek.

Pemerintah perlu terus memperbarui kurikulum pelatihan agar tetap relevan dengan perkembangan zaman, sembari tetap mempertahankan sentuhan kemanusiaan yang membuat para lansia merasa dihargai dan dilibatkan dalam perubahan zaman.

Kesimpulan

Upaya Korea Selatan dalam membantu lansia menghadapi kesenjangan digital adalah langkah krusial dalam menjaga kohesi sosial di tengah kemajuan teknologi yang eksponensial. Dengan mengombinasikan kebijakan pemerintah yang kuat, pelatihan komunitas yang inklusif, dan desain teknologi yang ramah pengguna, Korea Selatan berupaya memastikan bahwa kemajuan digital tidak meninggalkan mereka yang telah membangun fondasi negara tersebut di masa lalu. Kesenjangan digital bukan sekadar masalah akses terhadap alat, melainkan masalah akses terhadap kehidupan yang bermartabat di era modern.

Menampilkan Seluruh Artikel