Dalam kondisi pasar seperti ini, terjadi divergensi atau perbedaan performa yang kontras antar sektor industri. Investor mulai melakukan rebalancing portofolio untuk memitigasi risiko.
Sektor-sektor yang diprediksi akan mendapatkan keuntungan (beneficiaries) meliputi:
Perusahaan eksplorasi dan produksi minyak (Upstream Oil & Gas).
Perusahaan penyedia layanan infrastruktur energi.
Emiten yang bergerak di bidang energi terbarukan sebagai alternatif jangka panjang.
Sebaliknya, sektor-sektor yang akan mengalami tekanan hebat (losers) meliputi:
Maskapai penerbangan dan logistik yang biaya operasionalnya sangat bergantung pada avtur.
Sektor otomotif, terutama produsen kendaraan konvensional.
Sektor konsumsi (consumer goods) karena penurunan daya beli masyarakat akibat inflasi.
Sektor manufaktur yang memiliki intensitas energi tinggi dalam proses produksinya.
Kesimpulan
Kombinasi antara lonjakan harga minyak mentah di atas US$100 per barel dan meningkatnya ketegangan geopolitik AS-Iran telah menciptakan badai sempurna bagi pasar saham Asia. Pelemahan indeks utama seperti Nikkei dan KOSPI merupakan refleksi dari kekhawatiran investor terhadap risiko inflasi dan potensi perlambatan ekonomi global. Para pelaku pasar kini berada dalam posisi waspada, menunggu arah kebijakan dari bank sentral serta perkembangan situasi di Timur Tengah. Strategi investasi yang lebih defensif dan diversifikasi ke aset aman tampaknya akan menjadi pilihan utama dalam menghadapi volatilitas yang diperkirakan masih akan berlanjut dalam jangka pendek.