DWJ Manajement - PORTAL

Indonesia Rawan Bencana, Prabowo Sorot Inovasi Teknologi BRIN

Oleh: DWJ-Manajement 28 Aug 2026
Indonesia Rawan Bencana, Prabowo Sorot Inovasi Teknologi BRIN

Indonesia Rawan Bencana, Presiden Prabowo Dorong Akselerasi Inovasi Teknologi BRIN sebagai Garda Terdepan Mitigasi

JAKARTA - Menghadapi tantangan geografis Indonesia yang berada di wilayah Ring of Fire, Presiden Prabowo Subianto memberikan penekanan khusus pada penguatan sistem mitigasi bencana nasional. Presiden menegaskan bahwa ketergantungan pada metode konvensional tidak lagi cukup untuk melindungi rakyat dari ancaman bencana alam yang kian kompleks, mulai dari gempa bumi, tsunami, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Dalam arahannya, Presiden Prabowo menyoroti peran vital Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam mengembangkan teknologi mutakhir yang mampu memberikan peringatan dini secara akurat. Menurutnya, penguasaan teknologi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak untuk meminimalisir jatuhnya korban jiwa dan kerugian ekonomi yang masif akibat bencana.

Ancaman Geologis dan Kerentanan Wilayah Indonesia

Indonesia secara saintifik merupakan salah satu negara dengan tingkat kerentanan bencana tertinggi di dunia. Pertemuan tiga lempeng tektonik besar—Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik—menjadikan wilayah nusantara sebagai laboratorium geologi yang aktif. Hal ini menyebabkan frekuensi gempa bumi dan aktivitas vulkanik di Indonesia berada pada level yang sangat tinggi.

Selain ancaman tektonik, perubahan iklim global turut memperparah risiko bencana hidrometeorologi. Fenomena kemarau panjang yang sering melanda wilayah Sumatera dan Kalimantan, misalnya, menjadi pemicu utama kebakaran hutan yang tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga menciptakan kabut asap lintas negara yang berdampak pada kesehatan publik dan stabilitas ekonomi nasional.

Presiden Prabowo melihat bahwa pola penanganan bencana selama ini masih cenderung bersifat reaktif—artinya, tindakan baru dilakukan secara masif setelah bencana terjadi. Beliau mendorong perubahan paradigma menuju mitigasi proaktif, di mana teknologi digunakan untuk memprediksi, mendeteksi, dan memberikan peringatan sebelum dampak buruk melanda masyarakat.

BRIN dan Transformasi Teknologi Mitigasi

Untuk mewujudkan visi mitigasi berbasis teknologi tersebut, Presiden Prabowo menaruh harapan besar pada BRIN. Sebagai pusat riset nasional, BRIN diharapkan mampu mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu untuk menciptakan sistem peringatan dini (Early Warning System) yang lebih presisi dan terjangkau.

Ada beberapa sektor teknologi kunci yang menjadi fokus utama dalam pengembangan mitigasi bencana berbasis riset:

Sistem Deteksi Gempa dan Tsunami: Pengembangan sensor seismik bawah laut dan darat yang terintegrasi dengan satelit untuk memberikan jeda waktu evakuasi yang lebih panjang bagi masyarakat di pesisir pantai.

Pemantauan Karhutla Berbasis Satelit: Penggunaan citra satelit resolusi tinggi dan sensor termal untuk mendeteksi titik panas (hotspot) secara real-time, sehingga pemadaman dapat dilakukan sebelum api meluas.

Artificial Intelligence (AI) untuk Prediksi Cuaca: Pemanfaatan kecerdasan buatan untuk menganalisis pola cuaca ekstrem yang dapat memicu banjir bandang dan tanah longsor.

Teknologi Drone untuk Pemetaan Area Bencana: Penggunaan pesawat tanpa awak (drone) untuk memetakan wilayah terdampak bencana secara cepat guna mempercepat jalur logistik bantuan.

Mendorong Kemandirian Teknologi Nasional

Salah satu poin penting dalam arahan Presiden adalah mengenai kemandirian teknologi. Presiden Prabowo menekankan bahwa Indonesia tidak boleh terus-menerus bergantung pada teknologi impor untuk urusan keselamatan nasional. Pengembangan perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software) mitigasi harus lahir dari tangan putra-putri terbaik bangsa melalui riset di BRIN.

Kemandirian ini penting karena selain efisiensi biaya dalam jangka panjang, penguasaan teknologi lokal memungkinkan adaptasi alat yang lebih sesuai dengan karakteristik geografis unik Indonesia. Alat deteksi yang dikembangkan di laboratorium dalam negeri akan lebih presisi dalam membaca kondisi tanah dan laut di wilayah tropis dibandingkan alat yang dirancang untuk wilayah subtropis.

Tantangan Implementasi di Lapangan

Meski visi teknologi mitigasi ini sangat ideal, pemerintah menyadari adanya sejumlah tantangan besar dalam implementasinya. Tantangan pertama adalah infrastruktur distribusi data. Sistem peringatan dini yang canggih tidak akan berguna jika konektivitas internet dan aliran data di daerah terpencil atau pelosok tidak memadai.

Tantangan kedua adalah aspek sosial dan edukasi. Teknologi secanggih apa pun akan sia-sia jika masyarakat tidak memiliki kesiapsiagaan untuk merespons peringatan tersebut. Oleh karena itu, integrasi antara teknologi BRIN dengan edukasi kebencanaan di tingkat desa dan sekolah menjadi hal yang mutlak.

Terakhir, adalah masalah koordinasi antarlembaga. Mitigasi bencana melibatkan banyak pihak, mulai dari BMKG, BNPB, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, hingga pemerintah daerah. Presiden Prabowo menginstruksikan agar seluruh lembaga ini menyatukan data dan sumber daya dalam satu ekosistem digital yang terpadu agar tidak terjadi tumpang tindih informasi saat krisis terjadi.

Investasi pada Riset adalah Investasi Keselamatan

Presiden Prabowo menegaskan bahwa anggaran yang dialokasikan untuk riset dan pengembangan (R&Ds) di sektor mitigasi bencana tidak boleh dipandang sebagai pengeluaran semata, melainkan sebagai investasi strategis. Setiap rupiah yang dikeluarkan untuk mengembangkan sensor gempa atau sistem pemantau hutan akan menyelamatkan triliunan rupiah aset negara dan, yang paling penting, nyawa manusia.

Ke depan, sinergi antara pemerintah, akademisi, dan industri akan terus didorong untuk memastikan hasil riset BRIN dapat dikomersialisasi dan diimplementasikan secara luas dalam infrastruktur nasional. Indonesia harus bertransformasi dari negara yang sering menjadi korban bencana menjadi negara yang tangguh dan siap menghadapi segala dinamika alam.

Kesimpulan

Langkah Presiden Prabowo Subianto untuk menempatkan inovasi teknologi BRIN sebagai inti dari strategi mitigasi bencana merupakan kebijakan yang visioner dan sangat mendesak. Dengan mengalihkan fokus dari penanganan pasca-bencana ke arah deteksi dini berbasis teknologi canggih, Indonesia sedang membangun fondasi ketahanan nasional yang lebih kuat. Keberhasilan agenda ini akan sangat bergantung pada konsistensi dukungan anggaran, penguatan infrastruktur digital, serta kolaborasi lintas sektoral demi menjamin keselamatan seluruh rakyat Indonesia di tengah kerentanan geografis yang ada.

Menampilkan Seluruh Artikel