DWJ Manajement - PORTAL

Menkomdigi Dukung Pembatasan Gadget Buat Anak di Sekolah

Oleh: DWJ-Manajement 16 Jul 2026
Menkomdigi Dukung Pembatasan Gadget Buat Anak di Sekolah

Kecanduan Digital: Paparan layar yang berlebihan dapat menurunkan konsentrasi belajar siswa, membuat mereka sulit fokus pada penjelasan guru, dan cenderung mencari stimulasi instan dari perangkat mereka.

Paparan Konten Negatif: Tanpa pengawasan ketat, anak-anak berisiko mengakses konten pornografi, perjudian online, hingga paham radikalisme yang tersebar luas di internet.

Penurunan Kemampuan Sosial: Terlalu terpaku pada layar saat waktu istirahat dapat mengurangi kemampuan anak dalam membangun komunikasi interpersonal secara langsung dengan teman sebaya.

Sinergi dengan Implementasi PP Tunas

Kebijakan dukungan Menkomdigi terhadap pembatasan gadget ini tidak berdiri sendiri. Langkah tersebut dinilai sangat sejalan dengan semangat yang diusung dalam Peraturan Pemerintah (PP) terkait perlindungan anak dan pengembangan karakter (PP Tunas). Integrasi antara kebijakan digital dan regulasi perlindungan anak diharapkan dapat menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih tangguh.

Dengan adanya keselarasan ini, pemerintah berharap sekolah memiliki landasan hukum dan regulasi yang kuat untuk menerapkan aturan internal mengenai penggunaan perangkat elektronik. PP Tunas memberikan kerangka kerja agar setiap kebijakan yang diambil, termasuk pembatasan teknologi, tetap mengedepankan hak-hak anak untuk mendapatkan pendidikan berkualitas sekaligus perlindungan dari dampak buruk digitalisasi.

Meutya menambahkan bahwa koordinasi antar-lembaga, termasuk Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), menjadi kunci utama agar kebijakan ini tidak hanya menjadi aturan di atas kertas, tetapi benar-benar terimplementasi secara efektif di setiap jenjang pendidikan.

Tantangan dalam Implementasi di Lapangan

Meski mendapat dukungan kuat dari pemerintah pusat, penerapan pembatasan gadget di sekolah diprediksi akan menghadapi berbagai tantangan. Guru dan pihak sekolah dituntut untuk memiliki ketegasan sekaligus kreativitas dalam mengelola kelas tanpa ketergantungan pada perangkat digital.

Beberapa tantangan yang mungkin muncul meliputi: