Ketimpangan Skala Ekonomi: Penggilingan skala besar memiliki akses modal yang kuat dan teknologi yang lebih efisien, sehingga mampu menguasai pasar dan menekan harga beli gabah di tingkat petani.
Dominasi Rantai Distribusi: Struktur pasar yang cenderung oligopolistik pada level penggilingan menyebabkan kendali harga berada di tangan segelintir pihak.
Efisiensi Biaya yang Tidak Merata: Sementara petani harus menanggung beban kenaikan harga pupuk, bibit, dan biaya tenaga kerja, sektor penggilingan justru mampu menjaga margin tetap tinggi melalui optimalisasi proses pascapanen.
Lemahnya Pengawasan Tata Niaga: Kurangnya pengawasan ketat terhadap praktik perdagangan di tingkat menengah memungkinkan terjadinya praktik pengambilan margin yang berlebihan.
Dampak terhadap Stabilitas Harga Nasional
Ketimpangan ini juga berdampak langsung pada stabilitas harga pangan nasional. Ketika keuntungan menumpuk di satu titik, mekanisme pasar tidak lagi bekerja secara sehat untuk mengontrol inflasi. Penggilingan besar memiliki kekuatan untuk menentukan kapan stok harus dilepas ke pasar dan kapan harus ditahan, yang pada akhirnya dapat memicu volatilitas harga beras bagi konsumen akhir.
Langkah Strategis Pemerintah Mengatasi Ketimpangan
Menanggapi temuan ini, Menteri Pertanian menegaskan bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam. Kementerian Pertanian berkomitmen untuk melakukan reformasi tata niaga beras guna memastikan distribusi keuntungan yang lebih adil bagi seluruh stakeholder, terutama petani.
Beberapa langkah yang tengah dan akan diambil oleh pemerintah meliputi:
Perbaikan Sistem Logistik Pangan: Memperpendek rantai pasok agar distribusi beras dari petani ke konsumen menjadi lebih efisien dan tidak terlalu banyak melewati tangan perantara yang mengambil margin berlebihan.