Dampak Gempa Nagekeo: Perahu Tak Berani Melaut, Nelayan Terjepit Trauma dan Krisis Ekonomi
NAGEKEO, NTT – Suasana di pesisir pantai Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, yang biasanya riuh dengan deru mesin perahu dan aktivitas bongkar muat hasil laut, kini berubah menjadi sunyi dan mencekam. Sejak diguncang gempa bumi pada 15 Agustus 2026 lalu, denyut nadi ekonomi masyarakat pesisir di wilayah ini seakan terhenti total.
Puluhan perahu milik nelayan lokal tampak tertambat lesu di dermaga. Tidak ada layar yang terkembang, tidak ada jaring yang ditebar ke tengah samudera. Para nelayan yang merupakan tulang punggung ekonomi keluarga ini memilih untuk tetap di daratan, menahan kerinduan pada laut demi keselamatan nyawa dan keluarga mereka.
Trauma Gempa Susulan yang Tak Kunjung Reda
Alasan utama mengapa para nelayan enggan kembali melaut bukan sekadar masalah teknis perahu atau peralatan tangkap, melainkan adanya trauma psikologis yang mendalam. Gempa besar yang terjadi beberapa waktu lalu masih menyisakan ketakutan akan munculnya gempa susulan yang bisa sewaktu-waktu terjadi dengan kekuatan yang tidak terduga.
Bagi masyarakat pesisir, laut adalah sumber kehidupan, namun pascagempa, laut juga menjadi sumber kecemasan. Ketidakpastian mengenai aktivitas seismik di wilayah NTT membuat para nelayan merasa bahwa melaut dalam kondisi mental yang tidak stabil adalah tindakan yang sangat berisiko.
Seorang nelayan yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa perasaan tidak tenang terus menghantuinya. "Setiap kali ada getaran kecil di tanah, jantung rasanya mau copot. Bagaimana mungkin kami bisa fokus menjaga perahu di tengah laut jika di darat saja kami masih merasa tidak aman?" ujarnya dengan nada getir.
Kondisi geologis yang masih belum stabil menjadi faktor krusial. Para ahli menyarankan masyarakat untuk tetap waspada, dan imbauan ini secara tidak langsung berdampak pada sektor perikanan skala kecil yang sangat bergantung pada kondisi alam yang tenang dan stabil.
Dilema Keluarga di Pengungsian
Selain faktor keamanan di laut, kondisi sosial keluarga para nelayan juga menjadi penghambat utama mereka untuk kembali bekerja. Pasca bencana, sebagian besar keluarga nelayan di Nagekeo masih harus bertahan hidup di tenda-tenda pengungsian atau hunian sementara yang disediakan pemerintah.
Ada beban moral dan emosional yang besar bagi para nelayan. Mereka merasa tidak bisa meninggalkan istri dan anak-anak mereka yang masih dalam kondisi rentan di pengungsian. Kondisi di kamp pengungsian yang serba terbatas membuat para nelayan merasa perlu untuk tetap berada di dekat keluarga guna memastikan kebutuhan dasar mereka terpenuhi dan memberikan perlindungan psikologis bagi anak-anak.