DWJ Manajement - PORTAL

Nelayan Nagekeo Belum Kembali Melaut Pascagempa

Oleh: DWJ-Manajement 24 Aug 2026
Nelayan Nagekeo Belum Kembali Melaut Pascagempa

Dampak Gempa Nagekeo: Perahu Tak Berani Melaut, Nelayan Terjepit Trauma dan Krisis Ekonomi

NAGEKEO, NTT – Suasana di pesisir pantai Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, yang biasanya riuh dengan deru mesin perahu dan aktivitas bongkar muat hasil laut, kini berubah menjadi sunyi dan mencekam. Sejak diguncang gempa bumi pada 15 Agustus 2026 lalu, denyut nadi ekonomi masyarakat pesisir di wilayah ini seakan terhenti total.

Puluhan perahu milik nelayan lokal tampak tertambat lesu di dermaga. Tidak ada layar yang terkembang, tidak ada jaring yang ditebar ke tengah samudera. Para nelayan yang merupakan tulang punggung ekonomi keluarga ini memilih untuk tetap di daratan, menahan kerinduan pada laut demi keselamatan nyawa dan keluarga mereka.

Trauma Gempa Susulan yang Tak Kunjung Reda

Alasan utama mengapa para nelayan enggan kembali melaut bukan sekadar masalah teknis perahu atau peralatan tangkap, melainkan adanya trauma psikologis yang mendalam. Gempa besar yang terjadi beberapa waktu lalu masih menyisakan ketakutan akan munculnya gempa susulan yang bisa sewaktu-waktu terjadi dengan kekuatan yang tidak terduga.

Bagi masyarakat pesisir, laut adalah sumber kehidupan, namun pascagempa, laut juga menjadi sumber kecemasan. Ketidakpastian mengenai aktivitas seismik di wilayah NTT membuat para nelayan merasa bahwa melaut dalam kondisi mental yang tidak stabil adalah tindakan yang sangat berisiko.

Seorang nelayan yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa perasaan tidak tenang terus menghantuinya. "Setiap kali ada getaran kecil di tanah, jantung rasanya mau copot. Bagaimana mungkin kami bisa fokus menjaga perahu di tengah laut jika di darat saja kami masih merasa tidak aman?" ujarnya dengan nada getir.

Kondisi geologis yang masih belum stabil menjadi faktor krusial. Para ahli menyarankan masyarakat untuk tetap waspada, dan imbauan ini secara tidak langsung berdampak pada sektor perikanan skala kecil yang sangat bergantung pada kondisi alam yang tenang dan stabil.

Dilema Keluarga di Pengungsian

Selain faktor keamanan di laut, kondisi sosial keluarga para nelayan juga menjadi penghambat utama mereka untuk kembali bekerja. Pasca bencana, sebagian besar keluarga nelayan di Nagekeo masih harus bertahan hidup di tenda-tenda pengungsian atau hunian sementara yang disediakan pemerintah.

Ada beban moral dan emosional yang besar bagi para nelayan. Mereka merasa tidak bisa meninggalkan istri dan anak-anak mereka yang masih dalam kondisi rentan di pengungsian. Kondisi di kamp pengungsian yang serba terbatas membuat para nelayan merasa perlu untuk tetap berada di dekat keluarga guna memastikan kebutuhan dasar mereka terpenuhi dan memberikan perlindungan psikologis bagi anak-anak.

Beberapa faktor yang menyebabkan keluarga masih bertahan di pengungsian antara lain:

Kerusakan Hunian: Banyak rumah warga yang mengalami retak struktural atau kerusakan berat sehingga tidak layak huni.

Kebutuhan Logistik: Di pengungsian, distribusi bantuan makanan dan air bersih masih menjadi fokus utama, sehingga warga merasa lebih aman berada di dekat posko bantuan.

Kesehatan dan Sanitasi: Kekhawatiran akan munculnya penyakit pascabencana membuat keluarga memilih tetap dalam pengawasan tim kesehatan di area pengungsian.

Dukungan Sosial: Keberadaan sesama pengungsi memberikan rasa aman secara psikologis dibandingkan harus tinggal di rumah yang terasa "asing" pascagempa.

Ancaman Krisis Ekonomi di Sektor Perikanan

Berhentinya aktivitas melaut ini membawa dampak domino yang sangat serius bagi perekonomian lokal di Nagekeo. Nelayan adalah mata rantai utama dalam rantai pasok pangan laut di wilayah tersebut. Ketika nelayan berhenti melaut, seluruh ekosistem ekonomi di sekitarnya ikut lumpuh.

Para pedagang ikan di pasar tradisional kini mengeluhkan minimnya pasokan. Harga ikan di pasar-pasar lokal mulai mengalami fluktuasi yang tidak menentu akibat langkanya stok. Hal ini tentu membebani masyarakat luas, terutama bagi mereka yang sangat bergantung pada protein ikan sebagai sumber nutrisi utama.

Tidak hanya nelayan, para penyedia jasa pendukung seperti pengolah ikan, pedagang es balok, hingga penyedia bahan bakar solar untuk perahu juga ikut merasakan dampak penurunan pendapatan yang drastis. Berikut adalah gambaran dampak ekonomi yang terjadi:

Penurunan Pendapatan Rumah Tangga: Nelayan kehilangan penghasilan harian yang selama ini digunakan untuk kebutuhan pokok.

Kelangkaan Pasokan Protein: Masyarakat kesulitan mendapatkan ikan segar dengan harga terjangkau.

Efek Domino pada UMKM: Pengolah ikan kering dan kerupuk ikan kehilangan bahan baku utama mereka.

Peningkatan Angka Kemiskinan: Jika kondisi ini berlangsung dalam waktu lama, risiko kemiskinan ekstrem di wilayah pesisir akan meningkat secara signifikan.

Upaya Pemulihan yang Dibutuhkan

Pemerintah daerah dan instansi terkait diharapkan tidak hanya fokus pada bantuan darurat berupa logistik pangan, tetapi juga mulai memikirkan strategi pemulihan ekonomi bagi sektor perikanan. Pemulihan trauma (trauma healing) bagi para nelayan menjadi sangat mendesak agar mereka memiliki keberanian secara psikologis untuk kembali ke laut.

Selain itu, bantuan stimulan berupa modal kerja atau perbaikan alat tangkap yang mungkin rusak akibat bencana juga diperlukan untuk mempercepat kembalinya roda ekonomi. Sinergi antara pemantauan aktivitas seismik yang akurat dari BMKG dan bantuan sosial dari pemerintah akan menjadi kunci utama bagi warga Nagekeo untuk bangkit dari keterpurukan ini.

Kesimpulan

Situasi yang dialami nelayan di Nagekeo merupakan potret nyata betapa rapuhnya ketahanan ekonomi masyarakat pesisir terhadap bencana alam. Kombinasi antara trauma akan gempa susulan dan kondisi keluarga yang masih mengungsi telah menciptakan kebuntuan ekonomi yang serius. Tanpa adanya intervensi yang tepat, baik dari sisi pemulihan psikologis maupun dukungan finansial, pemulihan ekonomi di wilayah pesisir Nagekeo akan memakan waktu yang jauh lebih lama. Masyarakat kini hanya bisa menanti kepastian alam dan bantuan pemerintah agar mereka dapat kembali menjemput rezeki di tengah samudera.

Menampilkan Seluruh Artikel