Kenaikan Harga Bahan Baku Pakan: Ketergantungan pada bahan baku impor seperti bungkil kedelai (soybean meal) yang harganya mengikuti pasar global membuat harga pakan lokal sulit dikontrol.
Kelangkaan dan Mahalnya DOC: Harga bibit ayam atau Day Old Chick (DOC) yang tinggi membuat peternak harus merogoh kocek lebih dalam bahkan sebelum ayam mulai tumbuh.
Ketimpangan Suplai: Dominasi perusahaan integrator besar yang menguasai rantai pasok dari hulu ke hilir sering kali membuat peternak mandiri sulit mendapatkan akses pakan dan bibit dengan harga kompetitif.
Fluktuasi Harga Pasar: Mekanisme pasar yang tidak teratur sering kali menyebabkan harga ayam di tingkat konsumen tetap tinggi, namun harga di tingkat peternak justru anjlok.
Permindo Desak Pemerintah Segera Ambil Langkah Nyata
Menghadapi situasi kritis ini, Permindo meminta pemerintah, khususnya Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan, untuk tidak tinggal diam. Peternak membutuhkan kepastian hukum dan perlindungan pasar agar usaha mereka tetap dapat berjalan.
Kusnan menegaskan bahwa intervensi pemerintah sangat diperlukan untuk menstabilkan harga bahan baku pakan dan mengatur distribusi DOC agar lebih adil bagi peternak mandiri. Menurutnya, pemerintah perlu melihat bahwa keberlangsungan peternak rakyat adalah kunci dari ketahanan pangan protein hewani nasional.
Tuntutan Utama Peternak kepada Pemerintah
Dalam berbagai kesempatan, para peternak melalui asosiasi mereka telah menyampaikan sejumlah poin mendesak yang harus segera ditindaklanjuti oleh otoritas terkait, di antaranya:
Pengendalian Harga Bahan Baku Pakan: Pemerintah diharapkan mampu menjaga stabilitas harga bahan baku pakan ternak, baik melalui kebijakan impor yang terukur maupun penguatan produksi bahan baku lokal seperti jagung.